Tuesday, April 24, 2012

Relung Ekologi (Ecological Niche)

Relung ekologi (ecological niche) adalah jumlah total semua penggunaan sumberdaya biotik dan abiotik oleh organisme di lingkungannya. Salah satu cara unuk menangkap konsep itu adalah melalui analogi yang dibuat oleh ahli ekologi Eugene Odum :
Jika habitat suatu organisme adalah alamatnya, relung adalah pekerjaannya. Dengan kata lain, relung suatu organisme adalah peranan ekologisnya bagaimana ia “cocok dengan” suatu ekosistem. Relung suatu populasi kadal pohon tropis, misalnya terdiri dari banyak variabel, antara lain kisaran suhu yang dapat ia tolerir, ukuran pohon dimana ia bertengger, waktu siang hari ketika ia aktif, serta ukuran dan jenis serangga yang ia makan.

Istilah relung fundamental (fundamental niche) mengacu pada kumpulan sumberdaya yang secara teoristis mampu digunakan oleh suatu populasi dibawah keadaan ideal. Pada kenyataannya, masing-masing populasi terlibat dalam jaring-jaring interaksi dengan populasi spesies lain, dan pembatas biologis, seperti kompetisi, predasi, atau ketidakhadiran beberapa sumberdaya yang dapat digunakan, bisa memaksa populasi tersebut untuk hanya menggunakan sebagian relung fundamentalnya. Sumberdaya yang sesungguhnya digunakan oleh suatu populasi secara kolektif disebut relung realisasi (realized niche)–nya.
Sekarang kita dapat menyatakan kembali prinsip eksklusi kompetitif untuk menyatakan bahwa dua spesies tidak dapat hidup bersama-sama dalam suatu komunitas jika relungnya identik. Akan tetapi, spesies yang secara ekologis serupa, dapat hidup bersama-sama dalam suatu komunitas, jika terdapat satu atau lebih perbedaan yang berarti dalam relung mereka.
Bila dua spesies bergantung pada sumber tertentu dalam lingkungannya, maka mereka saling bersaing untuk mendapatkan sumber tersebut. Yang paling sering terjadi, sumber yang diperebutkan tersebut adalah makanan, tetapi dapat pula hal-hal seperti tempat berlindung, tempat bersarang, sumber air, dan tempat yang disinari matahari (untuk tumbuhan). Semua persyaratan ekologis suatu spesies merupakan relung ekologis spesies tersebut.
Habitat dan relung. Tempat hidup seekor hewan disebut habitatnya, sejumlah habitat umum , antara lain: tanah berlumpur, bendungan, kuala, gurun, dan sebagainya. Dalam golongan-golongan besar ini terdapat pembagian-pembagian lagi. Jadi beberapa hewan di daerah tepi danau meliang di dalam lumpur sedangkan yang lain hidup di antara tumbuhan ini. Subdivisi habitat demikian itu disebut mikrohabitat.
Relung ekologis suatu organisme harus tersedia di dalam habitatnya. Akan tetapi, konsep relung menyangkut pertimbangan yang tidak hanya sekedar tempat tinggal organisme. Kedudukan yang ditempati oleh suatu spesies di dalam jaring-jaring makanan merupakan faktor utama dalam menentukan relung ekologisnya. Tetapi faktor lain juga ikut terlibat. Sebagai contoh kisaran suhu, kelembaban, salinitas dan sebagainya, yang dapat diterima oleh setiap dua spesies dalam suatu habitat untuk ikut menentukan relung ekologisnya. Dengan mengetahui alamat (habitat) seseorang, maka kita tahu ke mana kita cari orang tersebut, tetapi jika kita mengetahui pekerjaan, hobi, dan cara-cara bagaimana orang itu bergaul dengan orang lain dalam masyarakat, kita akan mengetahui lebih banyak lagi mengenai orang tersebut. Demikian pula, relung ekologis seekor hewan meliputi semua aspek dari kedudukan yang ditempati oleh hewan tersebut di dalam ekosistem tempat ia hidup.
Tiap faktor yang merupakan bagian dari relung suatu spesies[1] biasanya berkisar sekitar suatu kisaran nilai. Jadi tiap organisme dapat menahan suatu kisaran tertentu dari suhu, kelembaban, PH (misalnya tumbuhan atau organisme air) salinitas (misalnya hewan-hewan di kuala), dan sebagainya. Pada umumnya organisme dengan kisaran toleransi yang luas lebih tersebar dibandingkan organisme dengan kisaran yang sempit.
Apakah suatu populasi benar-benar hidup dalam seluruh kisaran toleransinya juga bergantung pada jumlah persaingan antarspesies yang harus dihadapi. Sering terjadi bahwa persaingan antarspesies memaksa suatu spesies untuk hidup lebih dekat dengan batas toleransinya dari yang biasa yang dilakukannya. Jika gulma itu tumbuh sendiri-sendiri, masing-masing tumbuh paling baik di tanah dengan PH antara 5 dan 7. Jika ditanam bersama, persaingan yang hebat antara kedua tumbuhan menyebabkan kedua spesies itu tidak ada yang tumbuh subur di kisaran ini. Tetapi pada PH 4, lobak liar (Raphanus raphanistrum) tumbuh dengan merugikan mustard liar (Sinapsis arvensis), pada PH 8 keadaan terbalik. Kisaran toleransi organisme biasanya tidak tetap seluruh hidupnya. Sebagai contoh, tanaman yang tumbuh dengan baik sering dapat berhasil dipindahkan dan tumbuh dengan memuaskan di tempat benihnya tidak dapat tumbuh atau kecambahnya tidak dapat bertunas. Banyak dari aspek toleransi ini yang telah di analisis pada permulaan abad ini oleh V.E.Shelford, ahli ekologi yang mempelajari jaring-jaring makanan kompleks.
Relung ekologis beberapa organisme itu relatif luas. Burung elang dapat mengubah dietnya sesuai dengan banyaknya beberapa jenis hewan yang dapat dijadikan mangsanya. Sebaliknya relung kumbang buah kapas terlalu sempit makan tanaman kapas. Jika tidak ada tanaman kapas, maka tidak terdapat pula kumbang kapas. Adanya beberapa relung yang sama diberbagai tempat di dunia membantu menjelaskan fenomena evolusi konvergen. Kuskus terbang dan wombat di Australia menghuni suatu relung yang di Amerika Utara dihuni oleh bajing terbang dan sejenis marmot (woodchuck). Sementara relung-relung banyak spesies hewan di suatu komunitas tumpang tindih, mungkin saja tidak akan ada dua spesies yang menempati relung yang benar-benar sama di tempat yang sama pula. jika ini terjadi, maka dapat diduga bahwa satu spesies akan lebih efisien dalam memanfaatkan relung tersebut dari spesies yang lain dan akhirnya akan menggantikan spesies yang kurang efisien tadi.
Azas penyisihan bersaing ini tidak selamanya berlaku. Sebagai contoh, dua spesies insekta menghuni relung yang sama tetapi faktor lain (cuaca, parisitisme, pemangsaan) dapat begitu buruk, sehingga kedua populasi tersebut tidak ada yang dapat menjadi besar untuk mengurangi persediaan makanan. Akan tetapi, pada umumnya, penelitian yang seksama mengenai kebiasaan makan dua spesies yang menempati relung yang sama mengungkapkan adanya perbedaan-perbedaan. Sementara dari tiga burung finch Darwins, Geospiza magnirotris, G. Fortis dan G. Fuliginosa makan makanan yang sama dalam jumlah tertentu, masing-masing juga biji-bijian dengan ukuran yang bisanya tidak dimakan oleh yang lain.
Kapasitas lingkungan yang terbatas untuk menyediakan energi memberi batasan yang absolut terhadap ukuran populasi. Akan tetapi, batasan ini dalam keadaan alamiah tidak pernah dapat dicapai. Tiap sumber makanan dimanfaatkan oleh lebih dari satu spesies. Belalang, kelinci, dan sapi, semuanya bersaing untuk mendapatkan rumput yang ada. Dengan kata lain, kehadiran kelinci mengurangi daya dukung lingkungan, yaitu kelinci, untuk sapi, belalang. Kedua hewan ini pada gilirannya, untuk kelinci dan untuk diri masing-masing. Jadi populasi mereka terkendali oleh persaingan di antara mereka. Dalam keadaan demikian, kita dapat menghargai bahwa tiap sifat yang diturunkan yang mengurangi kekerasan persaingan antarspesies akan melalui seleksi alamiah, cenderung untuk menetap di dalam populasi. Yang biasanya dihasilkan adalah evolusi adaptasi yang meningkatkan efisiensi makan pada spesies itu. Persaingan yang sengit antara dua dari burung finch Darwin, Camarhynchus pauper dan C. Psittacula demi biji dengan ukuran tertentu untuk dimakan, berakibat evolusi bersifat mengarah yang kuat. Hasilnya adalah pergantian ciri dan dengan demikian pengurangan dalam derajat ketumpang tindihan kedua relung mereka sehingga kedua spesies itu sekarang dapat hidup berdampingan.
Akan tetapi, peningkatan efisiensi makan disertai dengan peningkatan spesialisasi dan hasilnya adalah hewan relung tiap spesies menjadi semakin sempit. Kumbang buah kapas dan ngengat dengan belalai panjangnya 25 cm, masing-masing merupakan contoh dari spesialisasi makan yang ekstrim. Relung mereka sempit, tetapi mereka dapat memanfaatkan lebih efisien dari saingannya.
Tumbuhan juga selalu bersaing dengan tumbuhan lain untuk sinar matahari, tanah, air, dan mineral. Untuk mendapatkannya, terdapat banyak adaptasi khusus yang dipakai oleh tumbuhan untuk mengurangi persaingan antarspesies. Spesies dengan sistem akar dangkal mampu berdampingan dengan speies berakar dalam karena masing-masing menyerap di kedalaman yang berlainan. Benih dari spesies yang tahan naungan dapat gagal untuk berkecambah di tempat yang terang karena di situ mereka akan kalah bersaing, dan demikian pula benih spesies yang tak tahan naungan tidak akan berkembang dengan baik di tempat yang banyak naungannya. Di gurun pasir, daun semak rapuh (brettlebush) yang gugur meninggalkan racun di tanah yang menyebabkan tumbuhan lain menjauh. Evolusi epifitisme, tumbuhan liana, dan (pada banyak tumbuhan perdu) pertumbuhan sebelum pohon-pohon hutan berdaun penuh, merupakan adaptasi agar dapat bersaing secara lebih efektif untuk sinar matahari.
[1]Organisme yang dapt melakukan perkawinan dan menghasilkan keturunan fertile, yaitu keturunan yang mampu berkembang biak.

0 comments:

Post a Comment

saran dan kritik rekan-rekan sekalian merupakan motifasi bagi kami untuk lebih baik dalam penyediaan referensi, maka dari itu di harapkan tinggalkan komentar anda untuk blog ini, Trimakasih.
ADMIN