HOT NEWS
BIOPEDIA MENGUCAPKAN SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1433 H MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN *** SELAMAT DATANG UNTUK SELURUH PENGUNJUNG YANG TELAH MAMPIR DI BLOG INI. MOHON MAAF JIKA ADA KEKELIRUAN ATAU KESALAHAN DALAM PENULISAN.>>> "KAMUS ONLINE BIOLOGI CLICK DISINI" >>> KRITIK SARAN SERTA KOMENTAR DAPAT ANDA SAMPAIKAN LEWAT KOLOM KOMENTAR KAMI (NO SARA, NO POLITIK, DLL), TERIMAKASIH. .

Infeksi Silang, Endogen, Nosokomial, dan Oportunistik


Infeksi didefinisikan sebagai keberhasilan invasi, keberadaan, dan pertumbuhan mikroorganisme pada pejamu atau di dalam jaringan pejamu, yang mengakibatkan reaksi jaringan tertentu. Jika tidak terdapat reaksi jaringan pada pejamu atau kondisi subklinis (yi. tidak tampak gejala infeksi), disebut “kolonisasi”, yang berarti bahwa terdapat mikroorganisme, tetapi karena tidak ada respons apa pun dari pejamu, mikroorganisme tersebut tidak dapat diidentifikasi. Kolonisasi mikroorganisme pada beberapa pasien dapat mengindikasikan bahwa organisme menyebar di satu area atau unit, seperti yang tampak pada banyak kejadian Staphylococcus aureus yang resisten-metisilin. Pasien yang mengalami kolonisasi bakteri menyebarkan organisme tersebut kepada tenaga kesehatan dan pasien lain, tetapi kondisi ini masih tidak dikenali, kecuali seseorang yang terpajan bakteri tersebut menunjukkan gejala klinis infeksi.
Sepsis menunjukkan adanya inflamasi, pus, dan tanda lain infeksi. Penyakit infeksi kadang dideskripsikan menggunakan istilah yang merujuk pada area infeksi (mis., pneumonia untuk infeksi pada paru dan tonsilitis untuk infeksi pada tonsil) atau, jika tidak sebagai penyakit tertentu (seperti tuberkulosis). Kontaminasi menunjukkan adanya organisme pada benda yang tidak bergerak atau materi hidup yang dapat mengalami penyakit infeksius berba- haya atau masalah yang tidak diinginkan.
RESERVOIR INFEKSI
Mikroorganisme memiliki reservoir di tempat mereka hidup. Untuk beberapa mikroorganisme, terutama virus yang tidak dapat melakukan replikasi di luar sel hidup, tubuh manusia merupakan reservoir dan virus bertahan hidup dengan masuk dari tubuh satu orang ke tubuh orang lain. Tubuh manusia juga merupakan reservoir untuk bakteri dan jamur yang berkoloni pada usus, kulit, serta saluran napas. Hewan merupakan reservoir beberapa mikroorganisme yang tidak menyebabkan penyakit pada hewan tersebut, tetapi menimbulkan infeksi jika masuk ke dalam tubuh manusia. Mikroorganisme lain (mis., Clostridium dan Legionella) normalnya hidup di lingkungan, yaitu di tanah, debu, atau air.
CARA PEN ULARAN DAN PORT D’ ENTRE MIKROORGANISME
Infeksi silang dapat terjadi hanya jika terdapat cara atau metode penularan dan port d’ entre (tempat masuk) mikroorganisme. Pada situasi pelayanan kesehatan, cara penularan yang paling sering adalah melalui tangan tenaga kesehatan, sedangkan port d’ entre mikroorganisme bereariasi. Sebagai contoh, jika mikroorganisme dari infeksi diare terdapat di tangan tenaga kesehatan, organisme tersebut dapat tertelan dan dicema di datum usus sehingga tenaga kesehatan tersebut menjadi simtomutik datum periode beberapa jam. Melalui cara yang sama, infeksi lake dapat disebarkan ke luke lain (port d’ entre) pada tangan tenaga kesehatan (cara penularan).
Penyebaran melalui kantak langsung menunjukkan penularan infeksi ke pasien melalui kontak langsung dengan orang yang mengalami infeksi. Kontak tidak langsung menunjukkan mendapat organisms, seperti patogen yang ditularkan melalui darah, dari jarum dan instrumen perawatan, atau mikroorganisme dari linen, kotoran, dan debu atau makanan. Tangan staf rumah sakit yang tidak dicuci juga termasuk penyebaran melalui kontak tidak langsung. Pentdaran infeksi vertikal (mis., HIV) dapat terjadi dari ibu ke janin, baik melalui placenta, mat pelahiran, maupun melalui air susu ibu (ASI). Terlepas dari cara penyebaran organisme, organisme patogen hanya dapat menetap dan menyebabkan infeksi pada pejamu yang rentan. Pejamu tersebut mungkin pasien lain, tenaga perawatan informal, atau tenaga kesehatan.
JENIS INFEKSI
INFEKSI SILANG (INFEKSI EKSOGEN)
Infeksi silang terjadi jika mikroorganisme yang menyebabkan infeksi didapat dari orang lain (pasien, tenaga kesehatan, orang yang merawat pasien) atau dari lingkungan (yaitu dari sumber eksogen). Contohnya, infeksi luka yang disebabkan oleh anggota staf perawatan yang membawa Staphylococcus, atau yang memiliki lepuh atau lesi sepsis atau, yang lebih sering, staf perawatan yang tidak melakukan teknik mencuci tangan yang tepat.
INFEKSI ENDOGEN ATAU INFEKSI-SENDIRI
Infeksi endogen terjadi jika mikroorganisme yang melakukan kolonisasi pada satu area dalam tubuh pejamu masuk ke area lain di dalam tubuh pejamu dan menimbulkan infeksi, seperti mikroorganisme usus yang menyebabkan infeksi pada luka atau saluran kemih.
INFEKSI NOSOKOMIAL
Infeksi nosokomial atau infeksi yang didapat di rumah sakit terjadi pada pasien yang dirawat di rumah sakit paling tidak selama 72 jam dan pasien tersebut tidak menunjukkan tanda serta gejala infeksi saat masuk rumah sakit. Infeksi nosokomial yang paling umum adalah infeksi saluran kemih.
INFEKSI OPORTUNISTIK
Infeksi oportunistik adalah infeksi serius akibat mikroorganisme yang normalnya tidak memiliki atau memiliki sedikit aktivitas patogen (kemampuan menimbulkan penyakit), tetapi menyebabkan penyakit jika resistensi pejamu menurun akibat penyakit serius, pengobatan invasif, atau karena obat (mis., pneumonia Pneumocystis cranii pada pasien HIV dan/atau AIDS).
PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI
Pasien dibekali perlindungan terhadap infeksi dalam tiga cara utama:
  1. Dengan menerapkan prinsip asepsis (menggunakan teknik tanpa menyentuh serta sarung tangan steril) dan dengan menerapkan standar tinggi untuk higiene lingkungan yang bertujuan menghilangkan sumber atau sumber potensial infeksi (yi. menghilangkan organisme yang menyebabkan penyakit). Tindakan ini meliputi pengobatan pasien yang mengalami infeksi dan membersihkan, melakukan disinfeksi, serta melakukan sterilisasi peralatan, materi dan area yang terkontaminasi (Ayliffe et al. 1992).
  2. Dengan menghambat rute penularan bakteri dari sumber potensial dan reservoir bakteri ke orang yang tidak mengalami infeksi. Metode ini meliputi isolasi pasien yang mengalami atau diduga mengalami infeksi, penerapan prinsip asepsis dan higiene tangan yang efektif, serta penggunaan perlengkapan pelindung. Asepsis (teknik aseptik).
  3. Dengan meningkatkan resistensi pasien terhadap infeksi, terutama saat dilakukan pembedahan. Sebagai contoh, dengan memegang dan mengangkat jaringan mati serta benda asing dengan saksama, serta (jika diindikasikan) dengan memberi terapi antijamur profilaksis (mis., sebelum pembedahan usus). Akan tetapi, semua faktor ini sangat dipengaruhi oleh kesehatan fisik pasien secara keseluruhan termasuk status nutrisi dan kerentanan terhadap infeksi.
KEWASPADAAN UNIVERSAL DAN / ATAU KEWASPADAAN STANDAR
Kewaspadaan universal dan/atau kewaspadaan standar adalah kewaspadaan rutin yang dilakukan oleh tenaga kesehatan selama kontak, atau kemungkinan kontak, dengan darah dan semua cairan tubuh.
Tindakan kewaspadaan ini meliputi:
  • Mencuci tangan atau dekontaminasi rutin;
  • Menggunakan perlengkapan pelindung, seperti sarung tangan, gaun plastik, masker, pelindung mata, dll.;
  • Menutup luka dengan balutan kedap air, penggunaan instrumen tajam dengan aman (jika mungkin, menghindari penggunaan instrumen tajam tersebut), prosedur yang tepat untuk menangani kucuran darah dan cairan tubuh;
  • Membuang dan membersihkan sampah yang terkontaminasi dengan tepat, melakukan disinfeksi serta melakukan sterilisasi peralatan. Instrumen tajam.
CUCI TANGAN
Cuci tangan (juga dianggap higiene tangan) adalah satu-satunya prosedur terpenting dalam pengendalian infeksi walaupun kita tahu bahwa prosedur ini belum benar-benar tepat dilakukan (Aliffe et al. 1992). Higiene tangan dapat dicapai dengan mencuci tangan menggunakan sabun cair atau sabun detergen antiseptik dan air, atau dengan menggunakan pembasuh tangan berbahan dasar alkohol. Sebelum menggunakan pembasuh tangan berbahan dasar alkohol pada tangan yang tampak kotor, terlebih dahulu hares mencuci tangan dengan sabun detergen cair.
PERAN PERAWAT PENGENDALI INFEKSI
Peran perawat pengendali infeksi adalah menyediakan layanan konsultasi mengenai semua aspek pencegahan dan pengendalian infeksi, dengan menggunakan metode yang berdasarkan bukti penelitian, praktis, dan keefektifan biaya. Audit, penelitian, dan pendidikan kesehatan merupakan aspek utama peran ini. Perawat pengendali infeksi dan tim memiliki peran besar dalam menangani kejadian infeksi.

SUMBER:
 
Ensiklopedia Keperawatan Oleh Chris Brooker

0 komentar:

Poskan Komentar

saran dan kritik rekan-rekan sekalian merupakan motifasi bagi kami untuk lebih baik dalam penyediaan referensi, maka dari itu di harapkan tinggalkan komentar anda untuk blog ini, Trimakasih.
ADMIN

Kotak Komentar