Saturday, October 29, 2011

Hati

Hati (bahasa Yunani: ἡπαρ, hēpar) merupakan kelenjar terbesar di dalam tubuh, terletak dalam rongga perut sebelah kanan, tepatnya di bawah diafragma. Berdasarkan fungsinya, hati juga termasuk sebagai alat ekskresi. Hal ini dikarenakan hati membantu fungsi ginjal dengan cara memecah beberapa senyawa yang bersifat racun dan menghasilkan amonia, urea, dan asam urat dengan memanfaatkan nitrogen dari asam amino. Proses pemecahan senyawa racun oleh hati disebut proses detoksifikasi.

Lobus hati terbentuk dari sel parenkimal dan sel non-parenkimal. Sel parenkimal pada hati disebut hepatosit, menempati sekitar 80% volume hati dan melakukan berbagai fungsi utama hati. 40% sel hati terdapat pada lobus sinusoidal. Hepatosit merupakan sel endodermal yang terstimulasi oleh jaringan mesenkimal secara terus-menerus pada saat embrio hingga berkembang menjadi sel parenkimal. Selama masa tersebut, terjadi peningkatan transkripsi mRNA albumin sebagai stimulan proliferasi dan diferensiasi sel endodermal menjadi hepatosit.

Wednesday, October 26, 2011

Gangguan dan Masalah Haid dalam Sistem Reproduksi

Menstruasi atau haid atau datang bulan adalah perubahan fisiologis dalam tubuh wanita yang terjadi secara berkala dan dipengaruhi oleh hormon reproduksi. Periode ini penting dalam hal reproduksi. Pada manusia, hal ini biasanya terjadi setiap bulan antara usia remaja sampai menopause. Selain manusia, periode ini hanya terjadi pada primata-primata besar, sementara binatang-binatang menyusui lainnya mengalami siklus estrus.

Pada wanita siklus menstruasi rata-rata terjadi sekitar 28 hari, walaupun hal ini berlaku umum, tetapi tidak semua wanita memiliki siklus menstruasi yang sama, kadang-kadang siklus terjadi setiap 21 hari hingga 30 hari. Biasanya, menstruasi rata-rata terjadi 5 hari, kadang-kadang menstruasi juga dapat terjadi sekitar 2 hari sampai 7 hari. Umumnya darah yang hilang akibat menstruasi adalah 10mL hingga 80mL per hari tetapi biasanya dengan rata-rata 35mL per harinya.

Sistem Koordinasi dan Alat Indra pada Manusia

Sistem Saraf
Sistem saraf merupakan sistem koordinasi (pengaturan tubuh) berupa penghantaran impul saraf ke susunan saraf pusat, pemrosesan impul saraf dan perintah untuk memberi tanggapan rangsangan.
Unit terkecil pelaksanaan kerja sistem saraf adalah sel saraf atau neuron

Cara Kerja Sitem Saraf
SEL SARAF
Sistem saraf tersusun oleh berjuta-juta sel saraf yang mempunyai bentuk bervariasi. Sistern ini meliputi sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi. Dalam kegiatannya, saraf mempunyai hubungan kerja seperti mata rantai (berurutan) antara reseptor dan efektor. Reseptor adalah satu atau sekelompok sel saraf dan sel lainnya yang berfungsi mengenali rangsangan tertentu yang berasal dari luar atau dari dalam tubuh. Efektor adalah sel atau organ yang menghasilkan tanggapan terhadap rangsangan. Contohnya otot dan kelenjar.

Setiap neuron terdiri dari satu badan sel yang di dalamnya terdapat sitoplasma dan inti sel. Dari badan sel keluar dua macam serabut saraf, yaitu dendrit dan akson (neurit). Dendrit berfungsi mengirimkan impuls ke badan sel saraf, sedangkan akson berfungsi mengirimkan impuls dari badan sel ke jaringan lain. Akson biasanya sangat panjang. Sebaliknya, dendrit pendek. Setiap neuron hanya mempunyai satu akson dan minimal satu dendrit. Kedua serabut saraf ini berisi plasma sel.

Monday, October 3, 2011

LARUTAN ASAM BASA


Asam sering dikenali sebagai zat berbahaya dan korosif. Hal ini benar untuk beberapa jenis asam yang digunakan di laboratorium, seperti asam sulfat dan asam klorida. Tetapi asam yang tidak berbahaya juga banyak ditemui dalam kehidupan sehari – hari. Misalnya pada cuka dan buah – buahan. Seperti halnya asam, basa juga sering digunakan dalam kehidupan sehari – hari. Misalnya dalam pasta gigi, deterjen, atau cairan pembersih. Secara umum, asam dapat dikenali dari bau dan rasanya yang tajam / asam. Sedangkan basa bersifat licin dan rasanya pahit. Bila diteteskan pada kertas litmus, asam akan memberikan warna merah dan basa akan memberikan warna biru.
4.1. Teori – teori Asam Basa
4.1.1. Teori Arrhenius
Menurut Arrhenius (1884), asam adalah zat yang melepaskan ion H+ atau H3O+  dalam air. Sedangkan basa adalah senyawa yang melepas ion OH- dalam air.
                                                HA  +  aq   à   H+(aq)  +  A-(aq)
                                                BOH  +  aq   à   B+(aq)  +  OH-(aq)
Di dalam air, ion H+ tidak berdiri sendiri, melainkan membentuk ion dengan H2O.
                                                H+  +  H2O   à   H3O+ (ion hidronium)
Berdasarkan jumlah ion H+ yang dapat dilepaskan, asam dapat terbagi menjadi
1.       Asam monoprotik à melepaskan 1 ion H+
Contoh : asam klorida (HCl)
                        HCl  à  H+(aq)  +  Cl-(aq)
2.       Asam diprotik à  melepaskan 2 ion H+
Contoh : asam sulfat (H2SO4
                        H2SO4  à  H+(aq)  + HSO4-(aq)
                        HSO4-  à  H+(aq)  + SO42-(aq)
3.       Asam triprotik à melepaskan 3 ion H+
Contoh : asam fosfat (H3PO4)
                        H3PO4  à  H+(aq)  + H2PO4-(aq)
H2PO4-  à  H+(aq)  + HPO42-(aq)
HPO42- à  H+(aq)  + PO43-(aq)
Bila asam dan basa direaksikan, maka produk yang akan terbentuk adalah senyawa netral (yang disebut garam) dan air. Reaksi ini disebut sebagai reaksi pembentukan garam atau reaksi penetralan, yang akan mengurangi ion H+ dan OH- serta menghilangkan sifat asam dan basa dalam larutan secara bersamaan. Jika asam yang bereaksi dengan basa adalah asam poliprotik, maka akan dihasilkan lebih dari satu jenis garam. Misalnya pada rekasi antara NaOH dengan H2SO4.
                                NaOH  +  H2SO4   à   NaHSO4  +  H2O
                                NaHSO4  +  NaOH   à   Na2SO4  + H2O
Senyawa NaHSO4 disebut sebagai garam asam, yaitu garam yang tebentuk dari penetralan parsial asam poliprotik. Garam asam bersifat asam, sehingga dapat bereaksi dengan basa membentuk produk garam lain yang netral dan air.

4.1.2. Teori Brönsted – Lowry
`Teori Arrhenius ternyata hanya berlaku pada larutan dalam air. Teori ini tidak dapat menjelaskan fenomena pada reaksi tanpa pelarut atau dengan pelarut bukan air. Pada tahun 1923, Brönsted – Lowry mengungkapkan bahwa sifat asam – basa ditentukan oleh kemempuan senyawa untuk melepas / menerima proton (H+). Menurut Brönsted – Lowry, asam adalah senyawa yang memberi proton (H+) kepada senyawa lain.
Contoh : HCl  +  H2O   à   H3O+  +  Cl-
Sedangkan basa adalah senyawa yang menerima proton (H+) dari senyawa lain.
Contoh : NH3  +  H2O   à   NH4+  +  OH-
Dalam larutan, asam / basa lemah akan membentuk kesetimbangan dengan pelarutnya. Misalnya HF dalam pelarut air dan NH3 dalam air.
                                                

Pasangan a1 – b2 dan a2 – b1 merupakan pasangan asam – basa konjugasi.
Ø  Asam konjugasi : asam yang terbentuk dari basa yang menerima proton
Ø  Basa konjugasi : basa yang terbentuk dari asam yang melepas proton

Teori Brönsted – Lowry memperkenalkan adanya zat yang dapat bersifat asam maupun basa, yang disebut sebagai zat amfoter. Contohnya adalah air. Di dalam larutan basa, air akan bersifat asam dan mengeluarkan ion positif (H3O+). Sedangkan dalam larutan asam, air akan bersifat basa dan mengeluarkan ion negatif (OH-).

4.1.3. Teori Lewis
Lewis mengelompokkan senaywa sebagai asam dan basa menurut kemampuannya melepaskan / menerima elektron. Menurut Lewis,
Ø  Asam : - senyawa yang menerima pasangan elektron
- senyawa dengan elektron valensi < 8
Ø  Basa : - senyawa yang mendonorkan pasangan elektron
- mempunyai pasangan elektron bebas
Contoh : Reaksi antara NH3 dan BF3
                                                H3N :  +  BF3   à   H3NàBF3
Nitrogen mendonorkan pasangan elektron bebas kepada boron. Pasangan elektron bebas yang didonorkan ditandai dengan tanda panah antara atom nitrogen dan boron.

Kelebihan teori Lewis ini adalah dapat menjelaskan reaksi penetralan yang dilakukan tanpa air. Misalnya pada reaksi antara Na2O dan SO3. Menurut Arrhenius, reaksi penetralan ini harus dilakukan dalam air.
                                                Na2O  +  H2O   à   2 NaOH
                                                SO3  +  H2à  H2SO4
                                                2 NaOH  +  H2SO4   à   2 H2O  +  Na2SO4

Teori Lewis memberikan penjelasan lain untuk menjelaskan reaksi ini.
                                                Na2O(s)  +  SO3(g)   à   Na2SO4(s)
                                2 Na+  +  O2-   à   2 Na+  +  [ OàSO3 ]2-


4.2. Konsep pH
Air memiliki sedikit sifat elektrolit. Bila terurai, air akan membentuk ion H+ dan OH-. Kehadiran asam atau basa dalam air akan mengubah konsentrasi ion – ion tersebut. Untuk suatu larutan dalam air, didefinisikan pH dan pOH larutan untuk menunjukkan tingkat keasaman.
4.2.1 Derajat keasaman (pH) Asam / Basa Kuat
Penentuan pH asam / basa kuat dihitung dengan persamaan
                                                                pH  =  - log [H+]
                                                                pOH  =  - log [OH-]
Dalam satu liter air murni, terdapat ion H+ dan OH- dengan konsentrasi masing – masing 10-7 M. Sehingga, pH air murni adalah
                                                                pH  =  - log [10-7]
                                                                pH  =  7
Hasil kali ion [H+] dan [OH-] dalam air selalu konstan, dan disebut tetapan air (Kw).
                                                                Kw  =  [H+]  [OH-]  =  10-14
                                                                pH  +  pOH  =  14
4.2.2 Derajat keasaman (pH) Asam / Basa Lemah
Asam dan basa lemah hanya terurai sebagian dalam air.
Bila asam lemah terurai dalam air :
                                                HA  +  H2O  =  H3O+  +  A-
Tetapan kesetimbangan untuk asam lemah (Ka) dinyatakan sebagai :

Nilai pH asam lemah dinyatakan sebagai:
                                                                pH  =  - log [H+]
M adalah nilai konsentrasi larutan yang akan ditentukan derajat keasamannya.

Basa lemah terurai dalam air dengan reaksi
                                                NH3  +  H2O  =  NH4+  +  OH-
Tetapan kesetimbangan untuk asam lemah (Ka) dinyatakan sebagai :
  
Nilai pOH basa lemah dinyatakan sebagai :
                                                                pOH  =  - log [OH-]

4.3. Larutan Penyangga (Buffer)
Bila suatu larutan mengandung asam dan basa lemah, larutan tersebut dapat menyerap penambahan sedikit asam / basa kuat. Penambahan asam kuat akan dinetralkan oleh basa lemah, sedangkan penambahan basa kuat akan dinetralkan oleh asam lemah. Larutan seperti ini disebut sebagai larutan penyangga atau larutan buffer. Pada umumnya, larutan penyangga merupakan pasangan asam – basa konjugasi yang dibuat dari asam / basa lemah dan garamnya. Contohnya asam asetat (CH3COOH) dan natrium asetat (CH3COONa). Ion asetat (CH3COO-) merupakan basa konjugat dari asam asetat. Untuk larutan penyangga, nilai pH dan pOH dinyatakan sebagai
4.4. Hasil Kali Kelarutan
Pada umumnya, sebagian besar garam, yang terbentuk dari reaksi penetralan asam – basa, larut dalam air. Dalam larutan jenuh, berlaku asumsi adanya kestimbangan antara garam yang tidak terlarut dengan ion – ion garam yang terlarut.
Contoh :               
 
Besaran Ksp disebut sebagai konstanta hasil kali kelarutan, yang nilainya tertentu untuk tiap jenis garam. Karena nilai Ksp diketahui, maka kelarutan Ag+ dan Cl- dalam air murni dapat dihitung.
Ksp  =  [Ag+] [Cl-]
                                1,7.10-10 = x.x
                                x  =  √1,7.10-10 = 1,3.10-5 M

Jika garam dilarutkan dalam pelarut yang mengandung salah satu ion pembentuk garam tersebut, maka kelarutannya akan lebih kecil. Hal ini disebut sebagai pengaruh ion sejenis.

Contoh : AgCl yang dilarutkan dalam larutan NaCl 0,01M.
Diketahui : Ksp = 1,7.10-10

[Ag+]
[Cl-]
m
-
0,01
b
x
x
s
x
0,01 – x  ≈  0,01
                Ksp  =  [Ag+] [Cl-]
                                                1,7.10-10  =  x . 0,01
                                                x  =  1,7.10-8
4.5. Hidrolisa 
Bila garam bereaksi dengan air, maka akan terurai dan melepaskan asam atau basa bebas.
                                                BA  +  H2O  =  BOH  +  HA
Proses ini disebut sebagai hidrolisa. Salah satu produk reaksi ini (HA atau BOH) akan terurai kembali bila asam atau basa tersebut merupakan elektrolit kuat. Tetapan kesetimbangan reaksi hidrolisa (Kh) dinyatakan sebagai
                                Kh  =  Kw  ( bila garam terbentuk dari basa kuat dan asam lemah )
                                          Ka
atau                       Kh  =  Kw   ( bila garam terbentuk dari asam kuat dan basa lemah )
                                         Kb
Perbandingan antara bagian yang terhidrolisa dengan kadar garam semula disebut derajat hidrolisa (g).

Wednesday, September 14, 2011

Model Torso

Model Torso - Mata pelajaran IPA Biologi di SMP mempelajari pola-pola interaksi komponen-komponen yang ada di dalam serta upaya manusia untuk mempertahankan keberadaanya di bumi. Materi IPA di SMP yang sangat kompleks, cenderung abstrak dan begitu dekat dengan kehidupan siswa, menuntut gambaran yang kongkrit serta pengalaman langsung melalui pengamatan, penguraian dan penggolongan objek dengan memaksimalkan seluruh indera yang ada, baik indera penglihatan, pendengaran, maupun peraba (Hamalik, 1994).

Untuk memperoleh gambaran yang kongkrit serta pengalaman langsung diperlukan alat peraga yang berfungsi untuk membantu mengkonkretkan pengalaman atau pengertian dalam proses belajar mengajar. Peragaan adalah mewujudkan bahan yang diajarkan secara nyata baik dalam bentuk asli maupun tiruan sehingga siswa lebih memahami apa yang disampaikan guru (Nurbatni, 2005)

Algoritma Genetika

Algoritma genetika adalah suatu algortima pencarian yang menerapkan proses evolusi biologi dengan tujuan untuk menemukan solusi terbaik dari suatu Masalah. Istilah-istilah yang sering digunakan pada algoritma genetika adalah gen, kromosom, populasi, generasi, dan fitness. Gen adalah rangkaian yang membentuk suatu kromosom, kromosom menyatakan suatu solusi dari masalah, populasi adalah kumpulan dari kromosom-kromosom dengan ukuran yang telah ditentukan, dan generasi menyatakan keturunan. Fungsi tujuan yang biasa dipakai pada algoritma genetik adalah fungsi fitness, yaitu fungsi yang menyatakan kekuatan dari suatu kromosom.

Ide dasar dari algoritma ini adalah membentuk suatu populasi awal secara acak, yang akan diproses melalui tiga operator dasar dari algoritma genetika, sehingga menghasilkan populasi baru untuk generasi berikutnya. Tiga operator dasar tersebut adalah: reproduksi, crossover, dan mutasi. Reproduksi digunakan untuk menyeleksi kromosom-kromosom yang akan diproses, crossover digunakan untuk mengawinkan pasangan kromosom sehingga menghasilkan kromosom-kromosom baru, dan mutasi digunakan untuk mengubah satu atau lebih gen pada suatu kromosom.

Hewan Invertebrata

Hewan Invertebrata adalah yang tidak bertulang belakang, serta memiliki struktur morfologi dan anatomi lebih sederhana dibandingkan dengan kelompok hewan bertulang punggung/belakang, juga sistem pencernaan, pernapasan dan peredaran darah lebih sederhana dibandingkan hewan invertebrata.

2. Filum-filum hewan invertebrate

* Filum Protozoa

Protozoa merupakan hewan bersel satu yang hidup di dalam air, protozoa memakan tumbuhan dan hewan, frotozoa berkembang biak secara reproduksi unseksual atau vegetatif dengan cara membelah diri dan dengan cara seksual/ generatif konjugasi.

Filum frotozoa terbagi menjadi beberapa kelas:

1. Kelas hewan berambut getar (cikata)
2. Kelas hewan berkaki semu (rhizopoda)
3. Kelas hewan berspora (sporozoa)
4. Kelas hewan berbulu cambuk (flogellato)


* Filum Porifera (hewan berfori)

Porifera merupakan hewan air dan hidup di laut bentuk tubuh seperti tumbuhan yang melekat pada suatu dasar laut, jadi forifera dapat berpindah tempat dengan bebas, tubuh forifera seperti tabung yang memiliki banyak pori (lubang kecil pada sisinya dan mempunyai rongga di bagian dalam) forifera dapat berkembang biak dengan cara generatif dan vegetatif.


Porifera terdiri dari tiga kelas:

1. Kelas corcorea, Terdiri dari zat kapur (spikula) dan hidup di laut yang dangkal, contoh; seghpha SP, charsarina SP
2. Kelas hexactinelida, Terdiri atas zat kersik dan hidup di laut yang dalam. Contohnya pnerorepa SP


* Kelas demospangia

Tubuh lunak bahkan tidak mempunyai rangka, contoh spongia SP

Filum coelentrata (hewan berongga)

Coelentrata berasal dari kata coilos (berongga) dan entron (usus) coelentrata mempunyai dua macam bentuk yakni bentuk pasif yang menempel pada suatu dasar dan tidak berpindah.
Coelentrata terdiri dari 3 kelas;

1. Kelas anthozoa
2. Kelas hydrozoa
3. Kelas scyphozoan



* Filum platyhelminthes (cacing pipih)

Kata platyhelminthes berasal dari bahasa Yunani, kata plays (pipih) dan hemlines (cacing). Platyhelminthes adalah yang mempunyai pipih. Hewan golongan ini mempunyai tubuh simetris bilateral, (kedua sisi sama), tubuh lunak dan tidak bersegmen (ruas) tetapi tidak mempunyai peredaran darah.


Platyhelminthes terbagi ke dalam tiga kelas yaitu:

1. Kelas turbellaria (cacing berambut getar)
2. Kelas trematoda (cacing isap)
3. Kelas cestroda (cacing pita)


Filum Mollusca (hewan lunak)

Sesuai dengan namanya, hewan lunak mempunyai tubuh lunak yang dilindungi oleh cangkang dari bahan kalsium (kapur) mollusca bersifat hermoporit, mempunyai sistem pencernaan, sistem pernapasan, dan sistem pengeluaran

Mollusca dibedakan menjadi 4 kelas;

1. Kelas lamilli brancuiata (golongan karang dan tiram)
2. Kelas gastropoda (golongan siput)
3. Kelas cephalopoda (golongan cumi-cumi)
4. Kelas amphineura



Filum enchinodermata (hewan berkulit duri)

Kata di atas berasal dari bahasa Yunani echimos (landak) dan derma (kulit) semua hewan yang termasuk filum echinodermata biasanya hidup di laut, bentuk tubuhnya simetris radial (sisi tubuh melingkar sama). Mempunyai sistem ameudakral (sistem pompa air). Rangka dalam berkapur dan memiliki banyak duri yang menonjol. Daya generasinya amat besar.

Filum enchinodermata terdiri dari 5 kelas yaitu:

1. Kelas bintang laut (asteroidal)
2. Kelas landak laut (echinoidal)
3. Kelas bintang laut (opiuroidal)
4. Kelas lilin laut (crinoidal)
5. Kelas teripong (holothuroidae)


Filum Antropoda

Filum ini mempunyai Jumlah species yang paling besar dibandingkan filum-filum lain. Tubuh dan kaki beruasa-ruas dan simetris bilateral, rangka luar mengandung zat kimia. Antropoda mempunyai peredaran darah, tetapi darahnya tidak berwarna, pertumbuhannya lama mengalami metamorfosis (perubahan bentuk).

Filum antropoda terdiri atas:

1. Kelas serangga (insecta)
2. Kelas laba-laba (arachoidae)
3. Kelas udang-udangan (erustacea)
4. Kelas lipan (mynapoda)



Sistem pencernaan pada hewan protozoa

Misalnya pada amoeba merupakan hewan bersel satu segala aktivitas hidupnya terjadi di dalam sel itu sendiri. Demikian juga pencernaan makanan terjadi di dalam sel, disebut pencernaan indra sel.

Pada waktu amoeba mendapatkan makanan segera amoeba membentuk kaki semu yang mengarah kepada makanan selanjutnya dikelilingi kaki semu kemudian makanan tersebut dibawa ke protoplasma. Dalam protoplasma yang mengandung makanan yang menghasilkan enzim pencernaan. Dalam rongga makanan tersebut terjadi pencernaan makanan. Makanan yang telah dicerna yang berupa sari makanan diserap dari sisa-sisa makanan dan dikeluarkan dari dalam tubuh.


Sistem pencernaan pada golongan hermes

Misalnya pada cacing tanah mempunyai saluran pencernaan yang terdiri atas mulut, kerongkongan, tembolok, empedal, usus dan anus.

Bagian depan kerongkongan agak membesar disebut paring yang berfungsi untuk mengisap makanan dari mulut dan membasahinya dengan lendir. Makanan cacing tanah berupa humus yang terdapat di tanah yang bersifat asam, dikelilingi kerongkongan terhadap tiga pasang kelenjar yang menghasilkan zat kapur yang dapat menetralkan sifat asam makanannya.


Sistem pencernaan pada hewan insecta

Serangga misalnya belalang mempunyai tembolok berfungsi untuk menyimpan makanan sementara di sebelah bawah tembolok terdapat kelenjar ludah yang menghasilkan ludah. Ludah tersebut dialirkan melalui saluran induk ke dalam rongga mulut. Dari tembolok makanan masuk ke dalam empedal dan dalam empedal makanan dihancurkan, selanjutnya makanan diteruskan ke dalam lambung. Di bagian depan lambung terdapat enam pasang usus buntu yang berfungsi sebagai kelenjar pencernaan. Makanan yang tidak dicerna diserap di dalam lambung. Sisa-sisa makanan dari usus melalui peletum dikeluarkan melalui anus.

Thursday, August 18, 2011

PENENTUAN NILAI HLB BUTUH MINYAK DENGAN JARAK HLB LUAS DAN SEMPIT


I.                   Tujuan Percobaan          :
·           Menghitung jumlah golongan surfaktan yang digunakan dalam pembuatan emulsi.
·           Membuat emulsi dengan mengunakan emulgator golongan surfaktan.
·           Mengevaluasi ketidakstabilan suatu emulsi.
·           Menentukan HLB butuh minyak yang digunakan dalam pembuatan emulsi.

II.                Teori Umum                    :
A.    Defenisi Emulsifikasi
Emulsifikasi merupakan proses pembentukan emulsi pada suatu sediaan farmasi(susanti.2008) . Terdapat beberapa pengertian tentang emulsi, yaitu :
1.         Menurut FI III : 9
 Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau cairan obat terdispersidalam cairan pembawa distabilkan dengan zat pengemulsi atau surfaktan yang cocok.
2.         Menurut FI IV : 6
 Emulsi adalah sistem dua fase dimana salah satu cairannya terdispersi dalam cairanyang lain dalam bentuk tetesan-tetesan kecil.
3.         Menurut Ensyclopedia : 138
 Umumnya digambarkan sebagai sistem heterogen, terdiri dari dua cairan yang tidak bercampur. Satu diantaranya didispersikan secara seragam sebagai tetesan kecil dalamcairan lain.
4.         Menurut Formularium Nasional : 412
Emulsi adalah sediaan berupa campuran terdiri dari dua fase cairan dalam sistemdispersi; yang satu terdispersi sangat halus dan merata dalam fase cairan lainnya;umumnya dimantapkan dengan zat pengemulsi.

Dalam bidang farmasi, emulsi biasanya terdiri dari minyak  dan air. Berdasarkan fasa terdispersinya dikenal dua jenis emulsi, yaitu :
a.       Emulsi minyak dalam air, yaitu bila fasa minyak, terdispersi di dalam fasa air
b.      Emulsi air dalam minyak, yaitu bila fasa air terdispersi di dalam fasa minyak.
Zat pengemulsi (emulgator) merupakan komponen yang paling penting agar memperoleh emulsi yang stabil. Zat pengemulsi adalah PGA, tragakan, gelatin, sapodan lain-lain. Pada pembuatan emulsi, surfaktan juga dapat digunakan sebagai emulgator. Jika surfaktan yang digunakan sebagai emulgator maka dapat terbentuk suatu emulsi ganda (multiple emulsion). Sistem ini merupakan jenis emulsi air-minyak-air atau sebaliknya.   Mekanisme  kerja  emulgator  semacam  ini  berdasarkan  atas  kemampuannya menurunkan  tegangan  permukaan  air  dan  minyak  serta  membentuk  lapisan monomolecular pada permukaan globul fase terdispersi.
Beberapa zat pegemulsi yang umum digunakan :
Nama

Golongan
Tipe emulsi  yang terbentuk
Trietanolamin oleat
Zat aktif permukaan (anionic)
o/w (HLB = 12 )
N-setil   N-etilmorfolinum etosulfat
Zat aktif permukaan (anionic)
o/w (HLB = 25 )                          
Sorbiton monoleat
Zat aktif permukaan (anionic)
o/w (HLB = 4.3)                       
Polioksietilen   sorbiton monoleat
Zat aktif permukaan (anionic)
o/w (HLB = 15 )                       
akasia
Koloid hidrofilik
o/w
gelatin
Koloid hidrofilik
o/w
bentonit
Partikel padat
o/w
vagum
Partikel padat
o/w
Karbon hitam
Partikel padat
o/w

Ada 3 macam golongan emulgator  :
a.       Adsorpsi monomolekuler / surfaktan
b.      Adsorpsi molekuler
c.       Adsorpsi partikel padat

Adsorpsi monomolekuler / surfaktan
Secara kimia molekul surfaktan terdiri atas gugus polar dan non polar. Apabila surfaktan dimasukkan ke dalam sistem yang terdiri dari air dan minyak, maka gugus polar akan mengarah ke fase air sedangkan gugus non polar akan mengarah ke fase minyak. Surfaktan yang didominasi gugus polar akan cenderung membentuk emulsi minyak dalam air. Sedangkan jika molekul surfaktan lebih didominasi gugus non polar akan cenderung menghasilkan emulsi air dalam minyak. Metode  yang  dapat  digunakan  untuk  menilai  efisiensi  surfaktan  sebagai emulgator adalah Metode HLB (hydrophilic-lipophilic balance).
Griffin menyusun suatu skala ukuran HLB surfaktan yang dapat digunakan menyusun daerah efisiensi HLB  optimum untuk setiap fungsi surfaktan. Semakin tinggi nilai HLB  suatu surfakatan, sifat kepolarannnya akan meningkat. Disamping itu, HLB butuh minyak yang digunakan juga perlu diketahui. Pada umumnya nilai HLB butuh    suatu minyak adalah tetap untuk setiap emulsi tertentu dan nilai ini di tentukan berdasarkan  percobaan. Menurut Griffin, nilai HLB butuh setara dengan nilai HLB surfaktan yang digunakan untuk mengemulsikan minyak dengan air sehingga membentuk suatu emulsi yang stabil.
Contoh :
R/ paraffin cair 20% HLB 12
      Emulgator 5%
      Air ad 100%
Secara teoritis emulgator dengan HLB 12 merupakan emulgator yang paling cocok untuk pembuatan emulsi dengan formulasi diatas. Tetapi pada kenyataannya jarang sekali ditemukan surfaktan dengan HLB yang nilainya sama dengan nilai HLB butuh minyak fase minyak.oleh karena itu pengunaan kombinasi surfaktan dengan nilai HLB rendah dan tinggi akan memberikan hasil yang lebih baik.hal ini disebabkan karena dengan mengunakan kombinasi emulgator yang akan diperoleh nilai HLB butuh minyak, misalnya pada emulsi tersebut diatas mengunakan kombinasi tween 80 (HLB 15 dan span (HLB 4,3 ) diperlukan perhitungan jumlah masing-masing emulgator.jumlah tersebut dihitung melalui cara berikut :
Jumlah emulgator yang dibutuhkan = 5% x 100 g =5 g  
Misalkan jumlah tween 80 = a g, maka span 80 =(5- a) g
Persamaan :
( ax 15)+(5-a) x (4,3) =(5x12)
15a + 21,5 – 4,3 a = 60
10,7 a =38,5
a = 3,6
jadi,     jumlah tween 80 yang dibutukan        = 3,6 g
jumlah span 80 yang dibutuhkan        = (5-3,6) g =1,4 g
disamping itu, pengunaan kombinasi dua emulgator akan menghasilkan emulsi yang stabil karena terbentuknya lapisan monomolekuler yang lebih rapat pada permukaan globul.

Ketidakstabilan Emulsi
a.       Flokulasi dan Creming
Fenomena ini terjadi karena pengabungan partikel yang disebabkan oleh adanya energy bebas permukaa semata.sifatnya reversible.
b.      Pengabungan dan Pemecahan
koalesan dan  breaking. Pecahnya emulsi karena lapisan film yang meliputi partikel rusak dan butir minyak akan koalesen (menyatu). Sifatnya ireversibel (tidak bias diperbaiki).
c.       Berbagai Jenis Perubahan Kimia dan Fisika
Peristiwa kimia seperti penambahan alkhol,perubahan CaCl2. Peristiwa fisika, seperti pemanasan,peyaringan,pendiginan dan pengadukan.
d.      Inverse Fase
Peristiwa berubahnya sekonyong-konyong tipe emulsi w/o menjadi o/w atau sebaliknya dan sifat irreversible.

III.             Alat dan Bahan   :
Alat    
1.      Lumping Dan Alu                               
2.      Gelas Ukur                                      
3.      Hotplate                                            
4.      Gelas Beker                                       
5.      Batang Pengaduk
6.      Thermometer

Bahan
1.       Minyak
2.      Aquadest
3.      Tween
4.      Span
IV.             Percobaan            :.
Penentuan HLB butuh minyak dengan jarak HLB lebar
R/ Minyak 30
Tween
30%
Span
Air ad 100
Dibuat emulsi dengannilai HLB butuh masing-masing 8,9,10,11,12,13.

Penentuan HLB butuh minyak dengan jarak HLB Sempit
Dari hasil percobaan di atas diperoleh nilai HLB butuh berdasarkan emulsi yang tampak relatif paling stabil. Misalnya nilai HLB butuhnya 9, maka untuk memperoleh nilai HLB butuh lebih akurat, perlu satu seri emulsi lagi dengan nilai HLB 8 sampai 10 dengan jarak HLB masing-masing 0,25.

V.                Prosedur Kerja   :
1.             Menghitung jumlah tween dan spa yang dibutuhkan untuk setiap nilai HLB butuh.
2.              Menimbang masing-masing minyak,air,tween,dan spa sejumlah yang dibutuhkan
3.              Mencampurkan minyak dengan spa,mencampurkan air dengan spa alu keduanya dipanaskan diatas tengas air suhu 60C
4.             Memasukkan campuran minyak kedalam campuran air didalam lumping dan segera diaduk menggunakan pengaduk selama 5 menit.
5.             Memasukkan emulsi kedalam gelas ukur dan  diberi tanda sesuai nilai HLB masing-masing.
6.              Tangga emulsi dalam tabung di usahakan sama dan mencatat waktu mulai memasukkan emulsi kedalam tabung. 
7.              Mengamati jenis emulsi dalam tabung diusahakan sama dan mencatat waktu mulai memasukkan emulsi kedalam tabung.
8.              Menentukan pada nilai HLB berapakah emulsi tampak relative paling stabil.

VI.             Hasil Percobaan dan Perhitungan         :
PERHITUNGAN
1.      Penentuan HLB butuh minyak dengan jarak HLB lebar
Kelompok 4 menghitung HLB 12
Jumlah emulgator yang dibutuhkan : 3 % x 100 g = 3 g
Minyak : 30 %
Air : add 100
Misalkan ; jumlah tween 80 HLB 15 = a g, Maka span 80 HLB 4,3 = (3-a) g
Persamaan :
(a x 15 ) + (3 - a) x 4,3 = 3 x 12
15 a + 12,9 – 4,3 a      = 36
                        10,7 a  = 23,1
                                a = 23,1  =  2,16 gram
                                      10,7
Jadi, jumlah Tween 80 yang dibutuhkan = 2,16 gram
Jumlah span 80 yang dibutuhkan = (3 – 2,16 ) gram = 0,84 gram
2.      Penentuan HLB butuh minyak dengan jarak HLB sempit
Kelompok 4 menghitung HLB 14,25
Jumlah emulgator yang dibutuhkan : 6 % x 100 g = 6 g
Minyak : 30 %
Air : add 100
Misalkan ; jumlah tween 80 HLB 15 = a g, Maka span 80 HLB 4,3 = (6 - a) g
Persamaan :
(a x 15 ) + (6 - a) x 4,3 = 6 x 14,25
15 a + 25,8 – 4,3 a = 85,5
                        10,7 a = 59,7
                                a = 59,7  = 5,58 gram
                                      10,7
Jadi, jumlah Tween 80 yang dibutuhkan = 5,58 gram
Jumlah span 80 yang dibutuhkan = (6 – 5,58 ) gram = 0.42 gram

Tabel Massa Tween dan Span yang dibutuhkan pada masing-masing nilai HLB butuh Jarak lebar
Nilai HLB
Massa Tween
(gram)
Massa Span
(gram)
9
1,3
1,7
10
1,6
1,4
11
1,9
1,1
12
2,2
0,8
13
2,4
0,6
14
2,7
0,3



Tabel Massa Tween dan Span yang dibutuhkan pada masing-masing nilai HLB butuh Jarak sempit
Nilai HLB
Massa Tween
(gram)
Massa Span
(gram)
13,25
5
1
13,5
5,2
0,8
13,75
5,3
0,7
14,25
5,6
0,4
14,5
5,7
0.3
14,75
5,9
0,1


HASIL PENGAMATAN
1.      Penentuan HLB butuh minyak dengan jarak HLB lebar (menggunakan data anak kelas A)

Dengan komposisi : Emulgator 6 %, Minyak 30 % dan Air add 100 %
Hari
HLB Butuh Minyak
10
11
12
13
14
9
1
-
-
-
-
-
-
2
-
-
-
-
-
-
3
50,6 ml
59,2 ml
45 ml
44 ml
50,5 ml
50,2 ml
4
52,1 ml
59,2 ml
47 ml
44,5 ml
50,5 ml
50,6 ml
5
52,5 ml
59,6 ml
51 ml
44,5 ml
51 ml
50,6 ml
6
52,8 ml
60,3 ml
51,5 ml
44,5 ml
51 ml
50,6 ml
   
 Keterangan : Data letak batas antara lapisan pertama dan lapisan kedua.

HLB Butuh Minyak
Keterangan
10
Creaming langsung terjadi.
Emulsi relatif tidak stabil.
11
Creaming langsung terjadi.
Emulsi relatif tidak stabil.
12
Creaming langsung terjadi.
Emulsi relatif tidak stabil.
13
Creaming langsung terjadi.
Emulsi relatif tidak stabil.
14
Creaming lebih lama terjadi.
Emulsi relatif stabil.
9
Creaming langsung terjadi dan panjang creaming lebih panjang di antara yang lain.
Emulsi relatif paling tidak stabil.

2.      Penentuan HLB butuh minyak dengan jarak HLB sempit
Dengan komposisi : Emulgator 6 %, Minyak 30 % dan Air add 100
Hari
HLB butuh minyak
13.25
13.5
13.75
14.25
14.5
14.75
1
B : 0-51
T : 51-56,5
A : 56,5-75
B: 0-38
T : 38-39
A : 39-75
B: 0-45,5
T : 45,5-46
A : 46-75
B : 0-45
T : 45-49
A : 49-75
B : 0-50
T : 50-51
A : 51-75
B: 0-48
T : 48-49,5
A :49,5-75
2
B: 0-51
T : 51-56,5
A : 56,5-75
B : 0-46
T : 46-49
A : 49-75
B : 0-46
T : 46-47,5
A : 47,5-75
B: 0-45
T : 45-49
A : 49-75
B: 0-50
T : 50-51
A : 51-75
B:0-48
T : 48-49,5
A :49,5-75
3
B : 0-51
T : 51-56,5
A : 56,5-75
B : 0-46
T : 46-49
A : 49-75
B : 0-47
T : 47-48,5
A : 48,5-75
B : 0-45,5
T : 45,5-50
A : 50-75
B : 0-50
T : 50-51
A : 51-75
B : 0-48
T : 48-49,5
A :49,5-75
4
B: 0-51,5
T : 51,5-56
A : 56-75
B: 0-46
T : 46-49
A : 49-75
B: 0-47l
T : 47-48,5
A : 48,5-75
B: 0-45,5
T : 45,5-50
A : 50-75
B : 0-50
T : 50-51
A : 51-75
B : 0-48
T : 48-49,5
A :49,5-75
5
B : 0-51,5
T : 51,5-56
A : 56-75
B : 0-46
T : 46-49
A : 49-75
B : 0-47.5
T : 47,5-48,5
A :48,5-75
B : 0-44
T : 44-50
A :50-75
B : 0-51
T : 51-53
A : 53-75
B:0-49,5
T : 49,5-50
A :50-75
Keterangan : B : Bawah, T : Tengah, A : Atas
HLB Butuh Minyak
Keterangan
13,25
Creaming langsung terjadi.
Emulsi relatif tidak stabil.
13,5
Creaming langsung terjadi.
Emulsi relatif tidak stabil.
13,75
Creaming langsung terjadi.
Emulsi masih relatif tidak stabil.
14,25
Creaming langsung terjadi.
Emulsi relatif stabil.
14,5
Creaming lebih lama terjadi.
Emulsi relatif tidak stabil.
14,75
Creaming lebih lama terjadi.
Emulsi relatif tidak stabil.

VII.          Pembahasan                    :
            Pada percobaan kali ini digunakan surfaktan dengan kombinasi yaitu tween 80 dan span 80, oleh karena itu diperlukan nilai HLB (Hydrophylic – Lypopilic Balance) butuh minyak. HLB butuh minyak setara dengan HLB campuran surfaktan yang digunakan untuk mengemulsikan minyak sehingga membentuk emulsi yang stabil. HLB butuh minyak ini perlu ditentukan apabila emulsi menggunakan kombinasi surfaktan, jika hanya menggunakan satu jenis surfaktan tidak diperlukan nilai HLB butuh minyak. HLB butuh minyak harus berada di rentang nilai HLB kombinasi surfaktan. Pada prakktikum ini digunakan surfaktan tween 80 dengan nilai HLB 15 dan span 80 nilai HLBnya 4,3.
Pada percobaan emulsifikasi ini awalnya akan dibuat satu seri emulsi dengan nilai HLB butuh jaarak lebar yang masing-masing adalah 9,10,11,12,13, dan 14. Bahan yang digunakan adalah minyak dan air, sedangkan untuk emulgator digunakan emulgator kombinasi surfaktan yaitu Tween 80 dan Span 80.  Pencampuran Tween 80 dengan air karena nilai HLB Tween 80 relatif tinggi yaitu sebesar 15. Nilai HLB yang tinggi menunjukkan bahwa Tween 80 bersifat polar sehingga dapat bercampur dengan air yang bersifat polar. Sedangkan Span 80 dicampur dengan fase minyak, karena Span 80 memiliki nilai HLB yang lebih rendah yaitu 4,3 dan menunjukkan bahwa Span 80 bersifat non polar sehingga dapat bercampur dengan minyak.
Terbentuknya emulsi ditandai dengan berubahnya warna campuran menjadi putih susu. Setelah beberapa menit emulsi yang terbentuk dimasukkan ke dalam tabung sedimentasi dan diberi tanda sesuai dengan nilai HLB-nya. Tinggi emulsi dalam tabung diusahakan sama agar mempermudah dalam membandingkan kestabilan dari tiap emulsi. Selanjutnya, diamati ketidakstabilan emulsi yang terjadi selama 5 hari. Dari hasil pengamatan, setelah emulsi dipindahkan ke dalam tabung sedimentasi semua emulsi mengalami creaming. Terbentuknya creaming menandakan emulsi yang terbentuk tidak stabil. Creaming yang terbentuk mengarah ke atas.

Foto sediaan emulsi dengan HLB butuh dengan jarak jauh

Creaming berpotensi terhadap terjadinya penggabungan fase dalam yang sempurna. Jadi, semakin tinggi creaming yang terjadi, semakin besar pula potensi fase dalam untuk bergabung secara sempurna.
Dari data pengamatan dapat dilihat bahwa semua emulsi mengalami creaming sehingga dapat dikatakan tidak ada yang stabil. Tinggi creaming pada emulsi dengan HLB 9 jauh lebih tinggi dibandingkan tinggi creaming pada emulsi lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa emulsi minyak oleum ricini dengan air pada HLB 9 paling tidak stabil jika dibandingkan dengan emulsi pada HLB lainnya. Sedangkan pada HLB 14 memiliki creaming yang lebih rendah dari pada yang lainnya. Hal ini menunjukkan pula bahwa emulsi pada HLB 14 yang paling stabil dibandingkan dengan yang lainnya.
Dari praktikum pertama diduga minyak X yang digunakan memiliki HLB butuh 14. Untuk memperjelas hasil emulsi, kembali dilakukan praktikum dengan menggunakan jarak HLB butuh dengan jarak pendek, dimana HLB yang digunakan mendekati HLB 14, yaitu HLB butuh masing-masing 13.25, 13.50, 13.75, 14.25, 14.5, dan 14.75.  setelah emulsi dibuat, masing-masing emulsi tetap mengalami creaming. Namun lama pembentukan masing-masing emulsi berbeda-beda. Yang paling lama mengalami creaming adalah  emulsi dengan nilai HLB butuh 14,25.

Foto sediaan emulsi dengan HLB butuh dengan jarak pendek

Tabung sedimentasi memiliki diameter yang berbeda-beda, sehingga kestabilan dapat dilihat pula dengan melihat kondisi warna emulsi. Pada HLB butuh 14,25 terlihat warna yang paling keruh diantara yang lain. Warna yang keruh ini menandakan bahwa masih terdapat globul-globul yang menyebar pada emulsi. Pada emulsi HLB 14,75 juga terlihat emulsi dengan warna keruh, namun pada bagian atasnya telah mengalami breaking. Sehingga dapat di simpulkan bahwa emulsi yang relatif stabil pada HLB butuh jarak sempit adalah emulsi dengan HLB 14,25.
Dari percobaan ini dibandingkan pula keadaan sediaan emulsi kelas A dan kelas B dengan sistem pengocokan berbeda. Kelas A menggunakan homogenizer dan kelas B menggunakan lumpang alu. Didapatkan sistem emulsi yang lebih stabil adalah emulsi yang menggunakan sistem pengocokan homogenizer.

VIII.       Kesimpulan                      :
Dari data pengamatan dan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa :
ü  Untuk menentukan nilai HLB butuh minyak yang belum diketahui maka mencari HLBnya dengan cara melakukan percobaan dua kali, yaitu penentuan HLB minyak dengan jarak HLB lebar dan jarak HLB sempit.
ü  Emulsi dengan bahan air dan minyak oleum ricini menggunakan emulgator Tween dan Span 80 dengan HLB jarak lebar 9,10,11,12,13, dan 14 tidak stabil karena mengalami creaming, dimana creaming yang terbentuk mengarah ke atas.
ü  Diantara emulsi-emulsi yang diamati, emulsi yang paling tidak stabil adalah emulsi dengan HLB 9.
ü  Diantara emulsi-emulsi yang diamati, emulsi yang paling stabil adalah emulsi dengan HLB 14. Sehingga pada percobaan berikutnya ditentukan nilai HLB butuh minyak jarak sempit yang mendekati nilai HLB 14.
ü  Untuk nilai HLB jarak sempit, emulsi yang paling stabil yaitu pada nilai HLB butuh minyak 14,25.
ü  Semakin tinggi creaming yang terjadi, semakin besar pula potensi fase dalam untuk bergabung secara sempurna. Sehingga menunjukkan emulsi tersebut tidak stabil.
ü  Ketidakstabilan emulsi dapat terjadi karena penggunaan emulgator yang tidak sesuai, selain itu penurunan suhu yang tiba-tiba dapat menyebabkan emulsi menjadi tidak stabil. Penambahan air secara langsung dalam campuran juga mempengaruhi pembentukan emulsi yang tidak stabil.
ü  Kestabilan juga dipengaruhi oleh sistem pengocokan yang digunakan.

SUMBER :
Agoes, G. 2006. Pengembangan Sediaan Farmasi. Bandung: Penerbit ITB
Anief. Moh. 2000. Farmasetika. Gajah Mada University Press : Yogyakarta
Anonim a. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta : Departemen kesehatan RI
Anonim b. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Handbook Of Pharmaceutical Exipent hal.479 – 482
Handbook Of Pharmaceutical Exipent hal.591
http://www.perfspot.com/ Emulsi/ Diakses pada tanggal 8 Mei 2011
Ibnuhayyan. 2008. Emulsi. Diakses pada tanggal 8 Mei 2011
Martin, A et.al. 1993. Farmasi Fisika. Jakarta: Universitas Indonesia Press.