Thursday, March 24, 2011

HEWAN DAN LINGKUNGANNYA

BAB II
HEWAN DAN LINGKUNGANNYA
Deskripsi Singkat
Bab ini menguraikan pengertian Lingkungan Bagi Hewan sebagai Kondisi dan Sumberdaya, Hewan dan Lingkungan Biotik, Hewan dan Lingkungan Abiotik, Kisaran Toleransi dan Faktor Pembatas serta Terapannya dan Komunitas.
Relevansi
Bab ini merupakan pengetahuan awal yang sangat erat hubungannya dengan bab selanjutnya.
Kompetensi Dasar
Setelah menyelesaikan kuliah ini, mahasiswa Jurusan Biologi semester VII dapat menjelaskan Hewan dan Lingkungannya dengan benar.
2.2. Penyajian.
Uraian dan Contoh
HEWAN DAN LINGKUNGANNYA
Lingkungan hewan adalah semua faktor biotic dan abiotik yang ada di sekitarnya dan dapat mempengaruhinya. Hewan hanya dapat hidup, tumbuh dan berkembang biak dalam suatu lingkungan yang menyediakan kondisi dan sumberdaya serta terhindar dari faktor-faktor yang membahayakan.
Begon (1996), membedakan faktor lingkungan bagi hewan ada 2 kategori, yaitu; Kondisi dan Sumberdaya. Kondisi adalah faktor-faktor lingkungan abiotik yang keadaannya berbeda dan berubah sesuai dengan perbedaan tempat dan waktu.
Hewan bereaksi terhadap kondisi lingkungan, yang berupa perubahan-perubahan morfologi, fisiologi dan tingkah laku. Kondisi lingkungan antara lain berupa.; temperature, kelembaban, Ph, salinitas, arus air, angina, tekanan, zat-zat organic dan anorganik.
Sumberdaya adalah segala sesuatu yang dikonsumsi oleh organisme, yang dapat dibedakan atas materi, energi dan ruang. Sumberdaya digunakan untuk menunjukkan suatu faktor abiotik maupun biotikyang diperlukan oleh hewan, karena tersedianya di lingkungan berkurang apabila telah dimanfaatkan oleh hewan. Setiap hewan akan bervariasi menurut ruang (tempat) dan waktu. Oleh karena itu setiap hewan senantiasa berusaha untuk selalu dapat beradaptasi terhadap setiap perubahan lingkungan tersebut. Dalam penyesuaian diri tersebut hanya hewan yang mampu beradaptasi dengan lingkungan yang dapat bertahan hidup, sementtara yang tidak mampu beradaptasi akan mati atau beremigrasi bahkan akan punah.
Perubahan lingkungan terhadap waktu, secara garis besarnya terdiri atas 3, yaitu;
  1. Perubahan Siklik, perubahan yang terjadinya berulang-ulang secara berirama, seperti malam dan siang, laut pasang dan surut, kemarau dan penghujan, dll. Perubahan siklik dapat berskala harian, bulanan, musiman, tahunan.
  2. Perubahan Terarah, suatu perubahan yang terjadi berangsur-angsur, terus menerus dan progresif dan menuju ke suatu arah tertentu. Prosesnya bisa lama. Contohnya mendangkalnya danau Limboto di Gorontalo.
  3. Perubahan Eratik, suatu perubahan yang tidak berpola dan tidak menunjukkan arah perubahannya. Contohnya; pengendapan Lumpur Lapindo di Jawa Timur (Ponorogo), kebakaran hutan, letusan gunung berapi dan lain-lain.
Setiap organisme di muka bumi menempati habitatnya masing-masing. Dalam suatu habitat terdapat lebih dari satu jenis organisme dan semuanya berada dalam satu komunitas. Komunitas menyatu dengan lingkungan abiotik dan membentuk suatu ekosistem. Dalam ekosistem hewan berinteraksi dengan lingkungan biotic , yaitu hewan lain, tumbuhan serta mikroorganisme lainnya. Interaksi tersebut dapat terjadi antar individu, antar populasi dan antar komunitas. Interaksi tersebut merupakan fungsi ekologis dari suatu ekosistem.
Interaksi antara individu dapat terjadi antar individu dalam suatu populasi atau berbeda populasi. Misalnya interaksi ayam jantan dengan pejantan lainnya untuk memperebutkan territorial, antarseekor kucing dengan tikus. Interaksi populasi terjadi antar kelompok hewan dari suatu jenis organisme dengan kelompok lain yang berbeda jenis organisme. Misalnya sekelompok harimau berburu sekelompok rusa di padang rumput. Interaksi antar komunitas terjadi antar kelompok-kelompo singa, kerbau, bison dan banteng di satu pihak dengan rumput dan semak-semak di pihak lain ketika hewan itu merumput di padang rumput. Hubungan antar hewan dengan lingkungan biotiknya terjadi antar organisme yang hidup terpisah dengan organisme yang hidup bersama.
Faktor-faktor biotic yang mempengaruhi kehidupan hewan adalah sebagai berikut:
Komunitas dan Ekosistem
Komunitas (biocenose) adalah beberapa jenis organisme yang merupakan bagian dari jenis ekologis tertentu yang disebut ekosistem unit ekologis, yaitu suatu satuan lingkungan hidup yang di dalamnya terdapat bermacam-macam makhluk hidup (tumbuhan, hewan dan mikroorganisme) dan antar sesamanya dan lingkungan di sekitarnya (abiotik) membntuk hubungan timbale balik yang salingmempengaruhi.
Ekosistem
Ekosistem adalah suatu unit lingkungan hidup yang di dalamnya terdapat hubungan yangfungsional antar sesame makhluk hidup dan antar makhluk hidup dengan komponen lingkungan abiotik. Hubungan fungsional dalam ekosistem adalah proses-proses yang melibatkan seluruh komponen biotic dan abiotik untukm mengelola sumberdaya yang masuk dalam ekosistem. Sumberdaya tersebut adalah sesuatu yang digunakan oleh o0rganisme untuk kehidupannya, yaitu energi, cahaya dan unsure-unsur nutrisi.
Interaksi antar komponen di dalam ekosistem menentukan pertumbuhan populasi setiap organisme dan berpengaruh terhadap perubahan serta perkembangan struktur komunitas biotic.
Produsen
Produsen terdiri dari organisme autotrof, yaitu organisme yang dapat menyusun bahan organic dari bahan organic sebagai bahan makanannya. Penyusunan bahan organic itu berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan energi yang diperlukan untuk aktivitas metabolisme dan aktivitas hidup lainnya. Organisme autotrof adalah; sebagian besar adalah organisme berklorofil, yang sebagian besar terdiri dari tumbuhan hijau dan sebagian kecil berupa bakteri.
Konsumen
Konsumen adalh komponen biotic yang terdiri dari organisme heterotrof, yaitu organisme yang tidak dapat memanfaatkan energi secara langsung untuk memenhuhi kebutuhan energinya. Organisme heterotrof sebagai organisme yang tidak dapat menyusun bahan organic dari bahan anorganik. Energi kimia dan bahan organic yang diperlukan dipenuhi dengan cara mengkonsumsi energi kimia dan bahan organic yang diproduksi oleh tumbuhan hijau (produsen).
Organisme yang tergolong konsumen adalah; Herbivore, yaitu memakan tumbuhan. Misalnya sapi, kuda, kambing, kerbau, kupu-kupu, belalang dan siput. Karnivor, adalah hewan pemakan hewan lain baik herbivore maupn sesame karnivor. Karnivor pada umumnya adalah hewan buas (harimau, singa, ular), dan hewan pemakan bangkai (komodo, burung hantu, dll). Predator juga termasuk sebagai karnivor. Omnivor, adalah hewan pemakan segalanya baik tumbuhan maupun hewan yang sudah mati, misalnya kucing, ayam, musang , tikus dan lain-lain. Detritivor, adalah organisme yang berperan sebagai pengurai (mikroorganisme) seperti bakteri.
Predator
Predator adalah hewan yang makan hewan lain dengan cara berburu dan membunuh. Hewan yang dimangsanya adalah hewan yang masih hidup. Contohnya adalah kucing makan tikus, capung makan serangga.
Parasit
Parasit, adalah hewan yang hidup pada hewan lain. Hidupnya sangat mempengaruhi inangnya karena semua zat makanan dari inang diserapnya untuk memenuhi kebutuhannya. Parasit berupa hewan kecil dan organisme kecil yanmg termasuk jamur dan bakteri pathogen.
Parasitoid
Parasitoid adalah serangga yang pada fase dewasanya hidup bebas, tetapi pada fase larva berkembang di dalam tubuh (telur, larva dan pupa) serangga lain yang merupakan inangnya. Serangga parasitoid pada umumnya termasuk pada ordo Hymenoptera dan Diptera. Hewan dewasa parasitoid meletakkan telurnya di dekat atau pada tubuh serangga lain (telur, larva dan pupa). Ketika telur parasitoid yang diletakkan pada tubuh inangnya menetas, selam fase larva itu belum dewasa akan hidup terus dalam tubuh inang. Larva tersebut akan makan sebagian atau seluruh tubuh dari inang sehingga menyebakan kematian bagi inangnya.
Pengurai
Pengurai, adalah organisme yang berperan sebagai pengurai. Cara mengkonsumsi makanan tidak dapat menelan dan mencerna makanan di dalam sel tubuhnya, melainkan harus mengeluarkan enzim pencerna keluar sel untuk dapat menguraikan makanannya yang berupa organic mati menjadi zat-zat yang molekulnya kecil sehingga dapat diserap oleh sel.
Mikrobivor
Mikrobivor adalah hewan-hewan kecil yang makan mikroflora (bakteri dan fungi). Hewan ini berupa protozoa dan nematoda.
Detritivor
Detritivor adalah hewan yang makan detritus, yaitu bahan-bahan organic mati yang berasal dari tubuh tumbuhan dan hewan. Hewan yang tergolong detritus antara lain; rayap, anjing tanah dan cacing tanah.
Intraspesifik dan interspesifik
Hubungan timbal balik antara dua individu dalam suatu jenis organisme (intraspsifik) dan hubungan antara dua individu yang berbeda jenis (interspesifik). Hubungan-hubungan ini meliputi:
Kompetisi
Kompetisi adalah hubungan antara dua individu untuk memperebutkan satu macam sumberdaya, sehingga hubungan itu bersifat merugikan bagi salah satu pihak. Sumberdaya berupa; makanan, energi dan tempat tinggal. Persaingan ini terjadi pada saat populasi meledak sehingga hewan akan berdesak-desakan di suatu tempat tertentu. Dalam kondisi demikian biasanya hewan yang kuat akan mengusir yang lemah dan akan menguasai tempat itu sedangkan yang lemah akan beremigrasi atau mati bahkan punah.
Simbiosis
Hubungan interspesifik ada yang berifat simbiosis ada yang non simbiosis. Hubungan simbiosis adalah hubungan antara dua individu dari dua jenis organisme yang keduanya selalu bersama-sama. Contoh dari simbiosis adalah Flagellata yang hidup dalam usus rayap. Flagellata itu mencerna selulosa kayu yang dimakan rayap. Dengan demikian rayap dapat menyerap karbohidrat yang berasal dari selulosa itu. Hubungan nonsimbiosis adalah hubungan antara dua individu yang hidup secara terpisah, dan hubungan terjadi jika keduanya bertematau berdekatan. Contohnya adalah kupu-kupu dengan tanaman bunga. Bunga akan terbantu dalam penyerbukan yang disebabkan terbawanya serbuk sari bunga oleh kaki kupu-kupu dengan tidak sengaja ke bunga yang lain pada saat kupu-kupu mengisap nectar dari bunga tersebut. Simbiosis sebagai hidup bersama antara dua individu dari dua jenis organisme, baik yang menguntungkan maupun yang merugikan.
Pemisahan Kegiatan Hidup
Peristiwa ini adalah hubungan kompetitif antara satu hewan dengan hewan yang lain dapat berkembang menjadi kegiatan pemisahan hidup (partition). Dalam hubungan ini hewan-hewan yang hidup di suatu habitat mengadakan spesialisasi dalam hal jenis makanan atau dalam metode dan tempat memperoleh makanannya. Misalnya burung Flaminggo mempunyai kaki dan leher yang panjang yang berfungsi dalam hal pengambilan makanannya berupa organisme kecil dan di tempat berlumpur sehingga burung tersebut mudah meraihnya.
Kanibalisme
Kanibalisme adalah sifat suatu hewan untuk menyakiti dan membunuh bahkan memakannya terhadap individu lain yang masih sejenis. Contoh belalang sembah betina membunuh belalang jantan setelah melakukan perkawinan, ayam dalam satu kandang yang berdesak-desakan sehingga ruangan dan makananya terbatas menyebabkan persaingan yang hebat.
Amensalisme
Hubungan antara dua jenis organisme yang satu menghambat atau merugikan yang lain, tetapi dirinya tidak berpengaruh apa-apa dari organisme yang dihambat atau dirugikan.
Komansalisme
Hubungan antara dua jenis organisme yang satu memberi kondisi yang menguntungkan bagi yang lain sedangkan dirinya tidak terpengaruh oleh kehadiran organisme yang lain itu.
Mutualisme
Hubungan antara dua jenis organisme atau individu yang saling menguntungkan tanpa ada yang dirugikan.
Hewan adalah organisme yang bersifat motil, yaitu dapat bergerak dan berpndah tempat. Gerakannya disebabkan oleh rangsangan tertentu yang berasal dari lingkungannya. Faktor-faktor yang merangsang hewan untuk bergerak adalah makanan, air, cahaya, suhu, kelembaban,dan lain-lain.
Faktor lingkungan yang berpengaruh pada kehidupan hewan dibedakan atas kondisi dan sumberdaya. Sumberdaya terdiri atas:
Materi adalah bahan-bahan atau zat yang diperlukan oleh organisme untuk membangun tubuh. Materi terdiri atas; zat-zat anorganik (air, garam-garam mineral) dan zat-zat organic (tubuh organisme lain atau sisa-sisa tubuh organisme yang sudah mati).
Energi adalah daya yang diperlukan oleh organisme untuk melakukan aktivitas hidup. Ruang adalah tempat yang digunakan organisme untuk menjalankan siklus hidupnya.
Hewan dan organisme lain mempunyai hubungan yang saling ketergantungan dengan lingkungannya, sehingga timbullah hubungan timbal balik antara keduanya. Hubungan timbal balik tersebut meliputi; Aksi, Reaksi dan Koasi. Lingkungan abiotik hewan meliputi faktor-faktor Medium dan Substrat.
Medium adalah bahan yang secara langsung melingkupi organisme dan organisme tersebut berinteraksi dengan medium, seperti; Ikan menerima zat-zat mineral dari air, sebaliknya air menerima kotoran ikan dalam air. Bagi beberapa jenis hewan, medium merupakan habitatnya.
Beberapa fungsi medium bagi hewan;
  1. Tempat tinggal misalnya; ikan hidup di air, cacing hidup di dalam tanah
  2. Sumber materi yang diperlukan untuk metabolisme tubuh, misalnya; hewan darat memperolh Oksigen dari udara.
  3. Tempat membuang sisa metabolisme, seperti Karbondioksida dan feces.
  4. Tempat berepeoduksi, misalnya, katak pergi ke air untuk kawin dan bertelur.
  5. Menyebarkan keturunan, misalnya; Larva ketam air tawar (Megalopa), menyebar di perairan sungai setelah berimigrasi dari laut ke arah hulu sungai.
Setiap medium berbeda komposisi merambatkan panas, sifat perubahnya sebagai akibat perubahan suhu, tegangan permukaan kekentalan, massa jenis dan tekanan.
Substrat adalah permukaan tempat organisme hidup, terutama untuk menetap atau bergerak, atau benda-benda padat tempat organisme menjalankan seluruh atau sebagian hidupnya. Setiap organisme memerlukan medium, tetapi tidak semua mempunyai substrat. Hewan air yang bersifat pelagic (berenang) tidak mempunyai substrat. Medium juga tidak berubah sebagai akibat adanya aktifitas organisme. Substrat mengalami modifikasi oleh aktivitas organisme, misalnya tanah padang rumput yang gembur menjadi padat jika digunakan untuk gembala kambing atau kerbau terus menerus. Substrat sebagai tempat berpijak, membangun rumah atau kandang dan tempat makanan. Beberapa hewan menggunakan substrat sebagai tempat berlindung, karena warna substrat sama dengan warna tubuhnya, misalnya; bunglon dan belalang kayu.
Beberapa faktor fisik yang berpengaruh pada kehidupan hewan adalah
Tanah
Tanah merupakan substrat bagi tumbuhan untuk tumbuh, merupakan medium untuk pertumbuhan akar dan untuk menyerap air dan unsure-unsur hara makanan. Bagi hewan tanah adalah substrat sebagai tempat berpijak dan tempat tinggal, kecuali hewan yang hidup di dalam tanah. Kondisi tanah yang berpengaruh terhadap hewan tersebut adalah kekerasannya.
Faktor dalam tanah yang mempengaruhi kehidupan hewan tanah antara lain kandungan air (drainase), kandungan udara (aerase), suhu, kelembaban serta sisa-sisa tubuh tumbuhan yang telah lapuk. Jika tanah banyak mengandung air maka oksigen di dalam tanah akan berkurang dan karbondioksidanya akan meningkat. Air juga menyebabkan tanah menjadi cepat asam, karena eir mempercepat pembusukan. Kurangnya oksigen menyebabkan gangguan pernapasan , dan zat-zat yang bersifat asam dapat meracuni hewan. Tanah yang terlalu kering menyebabkan hewan dalam tanah tidak dapat mengekstrak air secara normal. Kandungan karbondioksida dalam tanah lebih banyak daripada di atmosfir. Jika tanah banyak mengandung rongga pertukaran udara antar tanah dengan atmosfir menjadi lancar, karbondioksida dapat keluar sementara oksigen masuk.Rongga-rongga tanah dapat diperbanyak jika dalam tanah tersebut banyak hewan penggali tanahseperti cacing tanah dan anjing tanah.
Air
Air sangat menentukan kondisi lingkungan fisik dan biologis hewan. Perwujudan air dapat berpengaruh terahadap hewan. Misalnya jika air dalam tubuh hewan akan berubah menjadi dingin atau membeku karena penurunan suhu lingkungan, menyebabkan sel dan jaringan tubuh akan rusak dan metabolosme tidak akan bejalan noremal, sebaliknya penguapan air yangb berlebihan dari dalam tubuh hewan menyebabkan tubuh kekeurangan air.Hewan dapat dibedakan atas 3 kelompok ditinjau dari pengaruh air, yaitu; Hidrosol ( Hydrosoles) atau hewan air, Mesosol (Mesocoles), hewan yang hidup di tempat yang tidak terlalu basah dan tidak terlalu kering dan Xeroso ( Xerosole), hewan yang hidup di tempat yang kering karena tingginya penguapan.
Penyebaran dan kepadatan hewan air di lingkungan air ditentukan oleh kemampuannya mempertahankan osmotic dalam tubuhnya dan berhubungan dengan kemampuannya untuk bertoleransi dengan salinitas air.
Temperatur
Temperatur merupakan faktor lingkungan yang dapt menembus dan menyebar ke berbagai tempat. Temperatur dapat berpengaruh terhadap hewan dalam proses reproduksi, metabolisme serta aktivitas hidup lainnya. Suhu optimum adalah batas suhu yang dapat ditolerir oleh hewan, lewat atau kurang dari suhu tersebut menyebabkan hewan terganggu bahkan menuju kematian karena tidk tahan terhadap suhu.
Cahaya
Cahaya dapat mempengaruhi hewan, misalnya warna tubuh, gerakan hewan dan tingkah laku.
Gravitasi
Pengaruh gravitasi dirasakan oleh hewan jika hewan sedang berpijak pada substrat yang horizontal.Hewan yang berdiri di suatu bidang yang miring atau tegak, berenang di air dan terbang di udara merasakan adanya pengaruh gravitasi bumi. Gravitasi juga berpengaruh pada perbedaan tekanan air dan udara.
Gelombang Arus dan Angin
Kehidupan hewan juga dipengaruhi oleh arus dan angina. Hewan yang hidup di lingkungan air mengalir menghadapi resiko hanyut karena adanya aliran dan arus air. Demikian dengan hewan yang hidup di darat dan udara menghadapi arus angina. Namun demikian arus air dan angina yang normal sangat berpengaruh positif terhadap hewann, karena air dan angina dapat membantu sebagian aktivitas hewan.
pH
Pengaruh pH terhadap organisme terjadi melalui 3 cara, yaitu; 1) secara langsung, mengganggu osmoregulasi, kerja enzim dan pertukaran gas di respirasi, 2) tidak langsung, mengurangi kualitas makanan yang tersedia bagi organisme, 3) meningkatkan konsentarasi racun logam berat terutama ion AI.
Di lingkungan daratan dan perairan, pH menjadi faktor yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan dan penyebaran organisme. Toleransi hewan yang hidup di lingkungan air umumnya pHnya bervartiasi.
Salinitas
Salinitas adalah kondisi lingkungan yang menyangkut konsentrasi garam di lingkungan perairan dan air yang terkandung di dalam tanah. Di lingkungan perairan tawar, air cenderung meresap ke dalam tubuh hewan karena salinitasi air lebih renadah daripada cairan tubuh. Hewan yang bhidup di phabitat laut umumnya bersifat isotonic terhadap salinitas air laut sehingga tidak ada peresapan air ke dalam tubuh hewan.
Setiap organisme harus mampu beradaptasi untuk menghadapi kondisi faktor lingkungan abiotik. Hewan tidak mungkin hidup pada kisaran faktor abiotik yang seluas-luasnya. Pada prinsipnya masing-masing hewan memiliki kisaran toleransi tertentu terhadap semua semua faktor lingkungan.
Hukum Toleransi Shelford
“ Setiap organisme mempunyai suatu minimum dan maksimum ekologis, yang merupakan batas bawah dan batas atas dari kisaran toleransi organisme itu terhadap kondisi faktor lingkungan”
Apabila organisme terdedah pada suatu kondisi faktor lingkungan yang mendekati batas kisaran tolrensinya, maka organisme tersebut akan mengalami cekaman (stress). Fisiologis. Organisme berada dalam kondisi kritis. Contohnya, hewan yang didedahkan pada suhu ekstrim rendah akan menunjukkan kondisi kritis Hipotermia dan pada suhu ekstirm tinggi akan mengakibatkan gejala Hipertemia. Apabila kondisi lingkungan suhu yang demikian tidak segera berubah maka hewan akan mati.
Dalam menentukan batas-batas kisaran toleransi suatu hewan tidaklah mudah. Setiap organisme terdedah sekaligus pada sejumlah faktor lingkungan, oleh adanya suatu interaksi faktor maka suatu faktor lingkungan dapat mengubah efek faktor lingkungan lainnya. Misalnya suatu individu hewan akan merusak efek suhu tinggi yang lebih kerasapabila kelembaban udara yang relative rendah. Dengan demikian hewan akan lebih tahan terhadap suhu tinggi apabila udara kering disbanding dengan pada kondisi udara yang lembab.
Dalam laboratorium juga sangat sulit untuk menentukan batas-batas kisaran toleransi hewan terhadap sesuatu faktor lingkungan. Penyebabnya ialah sulit untuk menentukan secara tepat kapan hewan tersebut akan mati. Cara yang biasa dilakukan ialah dengan memperhitungkan adanya variasi individual batas-batas kisaran toleransi itu ditentukan atas dasar terjadinya kematian pada 50% dari jumlah individu setelah dideadahkan pada suatu kondisi faktor lingkungan selama rentang waktu tertentu. Untuk kondisi suhu, misalnya ditentukan LT50 – 24 jam atau LT50 – 48 jam (LT= Lethal Temperatur). Untuk konsentrasi suatu zat dalam lingkungan biasanya ditentukan dengan LC 50 – X jam ( LC= Lethal Concentration; X dapat 24, 48, 72 atau 96 jam) dan untuk sesuatu dosis ditentukan LD50 – X Jam.
Kisaran toleransi terhadap suatu faktor lingkungan tertentu pada berbagai jenis hewan berbeda-beda. Ada hewan yang kisarannya lebar (euri) dan ada hewan yang sempit (steno). Kisaran toleransi ditentukan secara herediter, namun demikian dapat mengalami perubahan oleh terjadinya proses aklimatisasi (di alam) atau aklimasi (di lab).
Aklimatisasi adalah usaha manusia untuk menyesuaikan hewan terhadap kondisi faktor lingkungan di habitat buatan yang baru. Aklimasi adalah usaha yang dilakukan manusia untuk menyesuaikan hewan terhadap kondisi suatu faktor lingkungan tertentu dalam laboratorium.
Konsep kisaran toleransi, faktor pembatas maupun preferendum diterapkan di bidang-bidang pertanian, peternakan, kesehatan, konservasi dan lain-lain. Hal ini dilakukan dengan harapan kinerja biologi hewan, pertumbuhan dan reproduksi dapat maksimum dan untuk kondisi hewan yang merugikan kondisi lingkungan biasanya dibuat yang sebaliknya.
Setiap hewan memiliki kisaran toleransi yang bervariasi, maka kehadiran di suatu habitat sangat ditentukan oleh kondisi dari faktor lingkungan di tempat tersebut. Kehadiran dan kinerja populasi hewan di suatu tempat menggambarkan tentang kondisi faktor-faktor lingkungan di tempat tersebut. Oleh karena itu ada istilah spesies indicator ekologi, baik kajian ekologi hewan maupun ekologi tumbuhan. Species indikatoe ekologi adalah suatu species organisme yang kehadirannya ataupun kelimpahannya dapat memberi petunjuk mengenai bagaimana kondisi faktor-faktor fisiko – kimia di suatu tempat.
Beberapa species hewan sebagai spcies indicator antara lain adalah Capitella capitata (Polychaeta) sebagai indicator untuk pencemaran bahan organic. Cacing Tubifex (Olygochaeta) dan lain-lain.
Kriteria-kriteria species indicator adalah;
Komunitas disebut juga Biocenuse, adalah beberapa jenis organisme yang merupakan bagian dari suatu jenis ekologis tertentu yang disebut ekosistem unit. Ekologis yang dimaksud adalah suatu satuan lingkungan hidup yang di dalamnya terdapat bermacam0macam makhluk hidup (tumbuhan dan hewan). Antar sesamanya dan lingkungan sekitarnya membentuk hubungan timbale balik yang saling mempengaruhi. Komunitas berupa hewan yang terdiri dari berbagai macam hewan, komunitas tumbuhan dalam satu ekosistem atau seluruh hewan dan tumbuhan yang disebut komunitas biotic.
Komunitas suatu ekosistem tertentu mempunyai ciri-ciri tertentu. Salah satu karakternya adalah keragaman jenis organisme penyusunnya. Keragaman komunitas biasanya ditentukan dengan menghitung indeks keragaman.

ALIGATOR

1.1 Latar Belakang
Suatu ekosistem terdiri dari semua organisme yang hidup dalam suatu komunitas juga semua faktor- faktor abiotik yang berinteraksi dalam ekositem tersebut. Batas ekosistem umumnya tidak jelas. Ekosistem dapat berkisar dari suatu mikrokosmos laboratorium, hingga danau dan hutan. Sesungguhnya, banyak ahli ekologi yang menganggap keseluruhan biosfer sebagai suatu ekosistem global.
Setiap ekosistem memiliki suatu struktur trofik dari hubungan makan- memakan. Tingkat trofik tersebut terdiri dari produsen primer, konsumen primer, konsumen sekunder, konsumen tersier dan bahkan beberapa ekosistem memiliki karnivora dengan tingkat yang lebih tinggi lagi.
Agar ekosistem itu berjalan dengan baik maka jumlah suatu penyusun struktur trofik haruslah seimbang.
Seperti ekosistem di missisipi, pada ekosistem tersebut Alligator amerika (Alligator mississippiensis) berperan sebagai konsumer puncak sehingga keberadaannya sangatlah penting dalam suatu ekosistem. Pengaruh pemangsa yang paling penting dalam struktur komunitas adalah membatasi persaingan di antara spesies mangsanya. Pemangsaan yang hebat dapat mengurangi kepadatan pesaing yang kuat, yang dengan demikian memungkinkan pesaing yang lebih lemah bertahan dalam komunitas itu.
Alligator amerika (Alligator mississippiensis) merupakan karnivora puncak yang memakan hampir semua jenis hewan, terutama ikan, kura- kura dan mamalia yang berukuran kecil. Keberadaan alligator di sungai Mississsippi juga berperan dalam pengandalian populasi tikus dan spesies lain agar tak terlalu banyak jumlahnya. Karena, meledaknya populasi suatu spesies akan mengancam keberlangsungan hidup spesies lain, minimal terhadap spesies yang menjadi makanan bagi spesies tersebut. Ledakan populasi suatu spesies juga mengakibatkan terjadinya peningkatan persaingan dalam perebutan tempat tinggal. Karena itu, Alligator memegang peranan penting dalam kesetimbangan ekosistem di sungai Mississippi.
Pada 1967, alligator amerika (Alligator mississippiensis) tercatat dalam kategori genting (endangered). Namun, status konservasinya kini menjadi kekhawatiran minimal (least concerned). Pergantian status konservasi alligator ini dikarenakan suksesnya upaya- upaya konservasi pemerintah Amerika serta yayasan- yayasan pecinta lingkungan hidup. Karena itu, perlu dibuat sebuah ulasan mengenai keberhasilan konservasi alligator yang menyelamatkan hewan ini dari kepunahan sebagai referensi kita dalam melaksanakan upaya konservasi biologi yang efektif.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan di buatnya paper ini adalah:
• Untuk meningkatkan pengetahuan pembaca tentang pentingnya alligator
• Sebagai salah satu upaya untuk menggalakkan konservasi alligator
• Sebagai tugas mata kuliah keanekaragaman hayati

Pembahasan

Nama 'alligator' berasal dari bahasa Spanyol 'el lagarto' yang berarti 'kadal', sedangkan nama spesies berarti 'Mississippi'. Alligator amerika (Alligator mississippienis) merupakan spesies endemic di sungai Mississippi. Panjang alligator jantan dewasa rata- rata 11,2- 14,5 kaki atau sekitar 3,4- 4,4 m. sedangkan ukuran alligator betina dewasa beberapa kaki lebih kecil dari ukuran jantannya, rata- rata hanya 8,2- 9,5 kaki, setara dengan 2,5- 3 m. Alligator mississippienis terpanjang yang pernah ditemukan mencapai 19 kaki 2 inci atau 5,84 m.

Alligator ini memiliki ekor yang sangat kuat. Ekornya ini berfungsi sebagai alat bantu gerak dalam air serta senjata untuk melawan musuhnya dan menangkap mangsanya. Pergerakannya di air sangat cepat, namun cenderung lambat ketika di darat. Alligator memiliki lima buah cakar di tiap- tiap kaki depannya dan empat buah di tiap- tiap kaki belakangnya.

Kekuatan gigit Alligator ini mencapai 9,452 N. Ada beberapa di antara spesies ini yang kehilangan melanin sehingga menjadi albino. Mereka juga rentan terhadap matahari. Para ahli dapat menentukan jenis kelamin mereka berdasarkan temperatur habitatnya. Pada suhu 90-93°F (32,2-33,8 °C) biasanya didiami oleh Alligator jantan dan pada suhu 82-86°F (27,7-30 °C) didiami oleh Alligator betina, sedangkan pada suhu 87-89 °F biasanya ditempati oleh Alligator jantan dan juga betina. Namun demikian, Alligator mampu bertahan pada suhu rendah. Dalam perut Alligator terkadang terdapat gastrolisis. Gastrolisis ini berfungsi untuk menghaluskan makanan dan membantu pencernaan gastrolit. Selain itu, gastrolisis juga digunakan untuk mengontrol daya apung hewan ini pada saat berenang.

Alligator hidup secara berkelompok. Kelompok tersebut terdiri atas anggota keluarga mereka yang hidup di area yang sama. Musim semi merupakan musim kawin bagi Alligator (antara akhir April dan awal Juni). Pada umumnya mereka telah siap kawin pada usia 8-13 tahun (biasanya memiliki panjang 6-7 kaki). Sekali bertelur, Alligator betina akan menghasilkan 20-50 telur yang besarnya seukuran telur angsa. Telur-telur tersebut akan menetas setelah ± 65 hari. Alligator betina akan tinggal di sarang selama masa inkubasi tersebut untuk menjaga telur dari predator. Alligator muda akan tinggal bersama keluarganya selama dua atau tiga bulan, namun ada juga yang tinggal selama tiga tahun. Sekitar 70% Alligator mississippiensis tinggal dengan pasangannya untuk beberapa tahun. Rata-rata masa hidup Alligator adalah 50 tahun dan usia maksimal hewan yang tinggal di sepanjang aliran sungai mississippi ini dapat mencapai hingga 75 tahun.


Alligator hidup di tanah yang basah. Habitat ini merupakan habitat vital yang merupakan kunci untuk keberlangsungan hidup jangka panjangnya. Alligator Amerika biasanya ditemukan di rawa-rawa air tawar dan rawa-rawa, serta di sungai, danau dan genangan air yang lebih kecil. Sementara air asin biasanya dihindari, namun dapat juga ditolerir tingkat keasinannya dalam jangka waktu yang singkat. Alligator dapat juga ditemukan di air payau sekitar rawa-rawa bakau.

Aligator hanya terdapat di dua negara yaitu Amerika Serikat dan Cina. Alligator Cina terancam punah dan tinggal jenis yang berada di lembah Yangtze. Alligator amerika ditemukan di Amerika Serikat dari Carolina sampai Florida dan Sepanjang Gulf Coast. Yaitu di negara bagian Alabama, Arkansas, North dan South Carolina, Florida, Georgia, Louisiana, Mississippi, Oklahoma dan Texas, sejauh barat perbatasan Meksiko. Mayoritas Alligator Amerika Tinggal di Florida dan Lousiana. Di Florida sendiri terdapat lebih dari 1 juta Alligator. Amerika Serikat adalah satu-satunya negara yang memiliki Alligator dan Buaya.

Kebanyakan orang menganggap alligator merupakan buaya yang besar namun sebenarnya terdapat perbedaaan di antara kedua spesises tersebut.
Berikut merupakan tabel perbedaan buaya dan alligator.
Perbedaan Alligator Buaya
Bentuk moncong tumpul meruncing dengan bentuk yang hampir segitiga
Deretan giginya deretan gigi pada rahang bawah tepat menancap pada gigi yang terdapat pada rongga pada deretan rahang atas sehingga pada saat moncongnya mengatup hanya deretan gigi pada rahang atasnya saja yang terlihat. kedua deret giginya terlihat dengan jelas
Tulang punggung memiliki lempeng tulang pada punggung dan bagian perut bawah memiliki sisik Kedua tulang rusuk pada ruas tulang belakang pertama bagian leher terbuka lebar



• Alligator Sebagai Keystone spesies

Alligator dianggap sebagai keystone spesies oleh karena itu peranan alligator sangatlah penting, ia berperan dalam keanekaragaman hayati dan keseimbangan ekosistem. Salah satu kontribusi terbesarnya adalah membuat lubang pada saat musim hujan. Lubang tersebut dibuat menggunakan moncong dan ekornya. Lubang itu dapat menampung air dan menyediakan tempat perlindungan pada saat musim kering. Lubang-lubang menyediakan sumber air yang vital untuk ikan, serangga, crustacea, ular, kura-kura, burung, dan binatang lain. Dan manfaat lebih lanjut alligator juga dapat menyediakan sumber makanan. Lubang alligator digunakan sebagai tempat bertelurnya kura- kura perut merah florida (Chrysemys nelsoni)
Selain itu, untuk kekeringan, buaya Amerika juga mampu bertahan hidup pada suhu di bawah nol. Ketika suhu mulai turun, buaya itu berkurang tingkat metabolisme, dan berhenti untuk mencari makanan di bawah 20-23 derajat Celsius, mundur ke liang yang digali di tempat yang selamat dari musim dingin dengan menggunakan cadangan energi yang tersimpan. Hebatnya, di luar liang, spesies ini juga mampu bertahan hidup kondisi pembekuan, menenggelamkan tubuhnya, tapi tetap lubang hidungnya di atas air untuk bernapas, yang kemudian terperangkap di sekitar permukaan es.
Selain berperan sebagai keystone spesies alligator juga memiliki manfaat lain, yaitu:
• Keberadaan alligator di beberapa daerah menunjukkan peningkatan jumlah merkuri.
• Ekstrak leukosit alligator bisa menghancurkan 23 strains bakteri termasuk jenis-jenis bakteri yang resisten antibiotik. ilmuwan mengatakan bahwa kandungan darah alligator amerika (sejenis buaya kecil dengan kepala lebih pendek dan gepeng) bisa menghancurkan 23 strains bakteri termasuk jenis-jenis bakteri yang resisten antibiotik.
Menurut penelitian yang dihadirkan dalam pertemuan nasional masyarakat kimia amerika, kandungan antifungi dan anti bakteri ini juga mampu menghancurkan virus HIV pada taraf tertentu.
Penemuan juga menyatakan bahwa konsentrasi tinggi dari serum alligator adalah bersifat racun bagi sel-sel manusia.
para ilmuwan percaya bahwa kulit beberapa hewan termasuk katak,kodok, komodo raksasa dan crocodil (buaya besar) juga mengandung peptida-peptida yang sama.
Para peneliti yakin bahwa penelitian tersebut akan menghasilkan pengembangan antibiotik yang lebih kuat untuk melawan infeksi khususnya secara individu, mulai dari borok kaki akibat diabetes, luka terbakar, dan penyakit autoimmune.

• Alligator berada di tingkat trofik tertinggi
• Sebagai konsumer tertinggi dalam piramida makanan, alligator berperan penting dalam membatasi persaingan di antara spesies mangsanya. Pemangsaan yang hebat dapat mengurangi kepadatan pesaing yang kuat, yang dengan demikian memungkinkan pesaing yang lebih lemah bertahan dalam komunitas itu.
Aligator seperti batu pondasi penting, yang jika dicabut struktur ekosistem akan runtuh. Aligator memangsa binatang-binatang lain dan menjadi predator penyeimbang. Jika tidak ada Aligator, populasi spesies lain akan berlebihan jumlahnya. Kebiasaan Aligator menggali lubang kubangan membawa berkah bagi binatang air. Saat musim kemarau, lubang itu bisa menjadi tempat berlindung hingga datang musim hujan. Dengan demikian, Aligator memodifikasi lingkungan.

Faktor- faktor yang berperan dalam penurunan jumlah alligator
Penurunan jumlah Alligator disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya:
1. Perburuan
Meskipun buaya Amerika saat ini memiliki populasi besar dan sehat, selama tahun 1950-an spesies karismatik ini berada dalam bahaya kepunahan. Perburuan kulit buaya, yang digunakan untuk membuat kulit berkualitas tinggi, telah mengakibatkan penurunan populasi bencana, terutama di Louisiana dan Florida.
Pada 1960an terjadi perburuan besar-besaran terhadap Alligator mississippiensis, turunnya jumlah aligator di sepanjang sungai Mississippi ini juga dibarengi dengan penurunan spesies-spesies lain secara drastis.
Sebuah undang-undang disahkan pada tahun 1967, Alligator digolongkan spesies terancam punah, memberikan pengakuan formal dari status berbahaya. Pada tahun 1973, Alligator Amerika tercatat sebagai endangered spesies act. Barulah kemudian diadakan pembatasan perburuan Alligator oleh pemerintah setempat untuk mencegah punahnya hewan ini.

2. Pemangsaan telur oleh spesies lain
Selama masa inkubasi, telur-telur Alligator yang disimpan di dalam sarang tidak selamanya berada dalam posisi aman. Para predator sewaktu-waktu bisa datang untuk mencuri telur-telurnya sebagai mangsa. Predator-predator tersebut diantaranya adalah burung. Pemangsaan telur Alligator ini dapat menjadi salah satu penyebab turunnya jumlah Alligator.

3. Kerusakan habitat
Dewasa ini, ancaman utama buaya Amerika adalah hilangnya habitat dan degradasi. Pelanggaran pembangunan oleh manusia di daerah-daerah lahan basah yang tidak dilindungi adalah penyebab utama hilangnya habitat spesies ini. Selain itu, polusi juga memiliki efek yang merugikan, dengan keberhasilan reproduksi yang rendah dan kelainan bentuk yang ditunjukkan oleh buaya yang disebabkan oleh kontaminasi dengan konsentrasi tuinggi.

4. Meningkatnya populasi ular phyton
Meningkatnya populasi ular phyton bima di florida yang merupakan spesies eksotik yang terkadang dapat mengalahkan alligator.
Konservasi Alligator Mississippiensis

Kebanyakan spesies genus alligator telah punah, yang tersisa hanya alligator cina (Alligator sinensis) dan aligator amerika (Alligator mississippiensis)
Pada tahun 1967 di Amerika terjadi perburuan besar-besaran terhadap alligator serta rusaknya habitat alligator yang menyebabkan status Alligator mississippiensis berada dalam keadaan genting. Artinya, resiko kepunahannya di alam sangat tinggi dan beresiko menjadi kritis.

Pada 1973, alligator masuk dalam spesies yang dilindungi. Pemerintah Amerika mengadakan peraturan pembatasan kuota perburuan.
United States Fish and Wildlife Services membentuk penangkaran alligator.
Lambat laun dengan melakukan konservasi secara kontinyu jumlah alligator pun semakin meningkat. Hingga saat ini diperkirakan terdapat sekitar 3,5 juta individu. Sehingga statusnya kini menjadi kekhawatiran minimal (least concerned).


KESIMPULAN

Adapun kesimpulan yang diperoleh adalah:
• Alligator merupakan keystone spesies yang harus dilindungi keberadaannya.
• Over exploitasi terhadap alligator menggugah pemerintah Amerika untuk mengeluarkan peraturan tentang perburuan alligator
• Jumlah alligator mengalami kenaikan yang signifikan setelah dilakukan konservasi

RESUME EKOLOGI LAUT TROPIS

Ekologi merupakan ilmu yang mempelajari interaksi antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Yang dipelajari diekologi adalah Niche, siklus biogeokimia, ekologi laut tropis, ekosistem.

Niche
Niche atau nicia atau ecological niche, tidak hanya melipu tiruang / tempat yang ditinggali organisme, tetapi juga peranannya dalam komunitas, dan posisinya pada gradient lingkungan: temperatur, kelembaban, pH, tanah dan kondisi lain.

Hukum Interaksi
  • Netral                                   : kambingdankucing
  • Kompetisi                            : kambingdankerbau
  • Predasi                                 : harimaudanhewankecil
  • Mutualisme                        : Kerbaudanberuang
  • Komensalisme                  : Anggrekdantumbuhan
  • Parasitisme                         : Hewandanbekteri
  • Antibiosa/amensalisme                : Alelopatydarigulma
Suksesi yakni primer, organis memulai menempati wilayah baru yang belum ada kehidupan contohnya delta
Sekunder, terjadi setelah komunitas yang ada menderita gangguan yang besar

Faktor pembatas
Dalam ekologi tumbuhan factor lingkungan sebagai factor ekologi dapat dianalisis menurut bermacam-macam faktor. Satu atau lebih dari faktor-faktor tersebut dikatakan penting jika dapat mempengaruhi atau dibutuhkan, bila terdapat pada taraf minimum,maksimum atau optimum menurut batas-batas toleransinya
Tumbuhan untuk dapat hidup dan tumbuh dengan baik membutuhkan sejumlah nutrient tertentu(misalnya unsur- unsur nitrat dan fosfat) dalam jumlah minimum. Dalam hal ini unsur- unsur tersebut sebagai factor ekologi berperan sebagai factor pembatas

SIKLUS BIOGEOKIMIA
Siklus Nitrogen
Bentuk atau komponen N diatmosfir dapat berbentuk ammonia(NH3), molekul nitrogen(N2), dinitritoksida(N2O), nitrogenoksida(NO), nitrogendioksida(NO2), asamnitrit(HNO2), asamnitrat(HNO3), basa amino(R3-N)dan lain- lain. Nitrogen bebas juga dapat bereaksi dengan hydrogen atau oksigen dengan bantuan kilat/petir(elektrisasi)

Siklus Fosfor
Di alam, fosfor terdapat dalam dua bentuk, yaitu senyawa fosfat  organik(pada tumbuhan dan hewan) dan senyawa fosfat anorganik(pada air dan tanah). Fosfat organik dari hewan dan tumbuhan yang mati diuraikan oleh dekomposer(pengurai) menjadi fosfat anorganik. Fosfat anorganik yang terlarut di air tanah atau air laut akan terkikis dan mengendap disedimen laut. Fosfat dari batu dan fosil terkikis dan membentuk fosfat anorganik terlarut di air tanah dan laut.

Siklus Karbon dan Oksigen
Merupakan siklus biogeokimia yang terbesar, Ada 3 hal yang terjadi pada karbon:
1)Tinggaldalamtubuh,
2)Respirasi oleh hewan,
3)Sampah / sisa 45% digunakan untuk pertumbuhan, 45% untuk respirasi, dan 10% untuk DOC,
Karbon masuk ke perairan melalui proses difusi






EKOLOGI LAUT TROPIS
Lingkungan Hidup Bahari
Laut merupakan penghubung (bukan perintang) antar bagian bumi dan Sumber bahan makanan untuk melengkapi bahan makanan dari daratan. Sumber mineral, energy fosil (minyak bumi) banyak didapatkan dilepas pantai, energy tidal.

Karakteristik Laut Tropik
Laut Tropis: sinar matahari terus menerus sepanjang tahun (hanyaadaduamusim, hujandankemarau), kondisi optimal bagi produksi fitoplankton dan constant sepanjang tahun
Laut Subtropis: intensitas sinar matahari bervariasi menurut musim (dingin, semi, panas dan gugur). Tingkat produktifitas akan berbeda pada setiap musim. Musim semi adalah  tinggi, dingin, sangat rendah
Laut Kutub: masa produktifitas sangat pendek (Juli atau Agustus), musim panas: fitoplankton tumbuh
Laut Tropik: predator tertinggi (tuna, lanset fish, setuhuk, hiu sedang dan hiu besar), predator lainnya: cumi-cumi, lumba-lumba
Laut Subtropik: predator tertinggi (lumba-lumba, anjing laut dan singa laut, paus, burung-burung laut), predator lainnya: salem, cumi-cumi
Laut Kutub: predator tertinggi (paus), predator lainnya: anjing laut, singa laut.

PESISIR
Wilayah peralihan antara laut dan daratan, ke arah darat mencakup daerah yang masih terkena pengaruh percikan air laut atau pasang, dan ke arah laut meliputi daerah papaan benua.

 Kerusakan Pesisir
Estuaria                : Laju sedimentasi menyebabkan pendangkalan
Mangrove           : Luas wilayah mangrove berkurang 70% selama 70 tahun terakhir. Contohnya Konversi menjadi tambak udang
Padang lamun   : Kehilangan 30-40% selama 50 tahun terakhir . Contohnya Reklamasi lahan
Terumbukarang                : Eksploitasi sumberdaya perikanan. Contonhya Pengambilan karang untuk bahan bangunan dan pembuangan limbah
Estuaria adalah teluk di pesisir yang sebagian tertutup, tempat air tawar dan air laut bertemu dan bercampur

Ekosistem Terumbu Karang
Luas terumbu karang Indonesia diperkirakan mencapai 60.000 km2, namun hanya 6,2% saja yang kondisinya baik

Manfaat Terumbu Karang
  • Berperan penting bagi pertumbuhan sumberdaya perikanan (sebagai feeding ground, fishing ground, spawning ground and nursery ground)
  • Mencegah terjadinya pengikisan pantai (abrasi)
  • Sebagai daya tarik wisata bahari

Ancaman Terhadap Terumbu Karang
  • Pencemaran minyak dan industri,
  • Sedimentasi akibat erosi, penebangan hutan, pengerukan dan penambangan karang
  • Peningkatan suhu permukaan laut
  • Buangan limbah panas dari pembangkit tenaga listrik

Ekosistem Padang Lamun
Lamun merupakan tumbuhan berbunga yang hidupnya terbenam di dalam laut. Padang lamun ini merupakan ekosistem yang mempunyai produktivitas organik yang  tinggi



Ancaman Terhadap Padang Lamun
l  Pengerukan dan pengurugan dari aktivitas pembangunan (pemukiman pinggir laut, pelabuhan, industri dan saluran navigasi)
l  Pencemaran limbah industri terutama logam berat dan senyawa organoklorin
l  Pembuangan sampah organik

Upaya pelestarian Padang Lamun
l  Mencegah terjadinya pengrusakan akibat pengerukan dan pengurugan kawasan lamun
l  Mencegah terjadinya pengrusakan akibat kegiatan konstruksi di wilayah pesisir
l  Mencegah terjadinya pembuangan limbah dari kegiatan industri, buangan termal serta limbah pemukiman

 Ekosistem Mangrove
Luas hutan mangrove di Indonesia merupakan yang terluas di dunia (2,5-3,5 juta Ha,18-23 % luas mangrove di dunia dan lebih luas dari Brasil)

Fungsi ekologis:
- Sebagai peredam gelombang (termasuk gelombang tsunami), angin dan badai
- Melindungi daerah pantai dari bahaya abrasi
- Sebagai penyerap nutrien organik, penahan lumpur dan perangkap sedimen

Fungsi ekonomi :
sebagai penghasil kayu untuk bahan bangunan, kayu bakar, bahan baku arang, tanin, obat-obatan, energi/biofuel, dan pariwisata



Ancaman terhadap Hutan Mangrove
Perubahan hutan mangrove menyebabkan gangguan fungsi ekologi mangrove:
- Konversi hutan mangrove menjadi lahan tambak, pemukiman, pertanian, pelabuhan dan perindustrian
- Pencemaran limbah domestik dan bahan pencemar lainnya
- Penebangan ilegal

DEFINISI EKOLOGI DAN KONSEP EKOLOGI HEWAN

Deskripsi Singkat
Bab ini akan menguraikan Definisi Ekologi dan Konsep Ekologi Hewan, Sasaran dan Ruang Lingkup Ekologi Hewan, Peranan Ekologi Bagi Manusia, Permodelan dan Pendekatan dalam Ekologi Hewan serta Aplikasi Konsep Ekologi Hewan.
Relevansi
Bab ini merupakan pengetahuan awal yang sangat erat hubungannya dengan bab-bab selanjutnya.
Kompetensi Dasar
Setelah menyelesaikan mata kuliah ini, mahasiswa Jurusan Biologi semester VII dapat menjelaskan Definisi Ekologi dan Konsep Ekologi Hewan dengan tepat.
Uraian dan Contoh
PENDAHULUAN
1. Ekologi dan Konsep Ekologi Hewan
Ekologi berasal dari bahasa Yunani; Oikos = rumah , Logos = ilmu. Beberapa ahli ekologi mendefinisikan Ekologi sebagai berikut:
  1. Odum (1963), Ekologi diartikan sebagai totalitas atau pola hubungan antara makhluk dengan lingkungannya.
Secara umum Ekologi sebagai salah satu cabang ilmu biologi yang mempelajari interaksi atau hubungan pengaruh mempengaruhi dan saling ketergantungan antara organisme dengan lingkungannya baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap kehidupan makhluk hidup itu. Lingkungan tersebut artinya segala sesuatu yang ada di sekitar makhluk hidup yaitu lingkungan biotik maupun abiotik.
Hal-hal yang dihadapi dalam ekologi sebagai suatu ilmu adalah organisme, kehadirannya dan tingkat kelimpahannya di suatu tempat serta faktor-faktor dan proses-proses penyebabnya. Dengan demikian, definisi-definisi tersebut jika dihubungkan dengan ekologi hewan dapat disimpulkan bahwa Ekologi Hewan adalah suatu cabang biologi yang khusus mempelajari interaksi-interaksi antara hewan dengan lingkungan biotic dan abiotik secara langsung maupun tidak langsung meliputi sebaran (distribusi) maupun tingkat kelimpahan hewan tersebut.
Sasaran utama ekologi hewan adalah pemahaman mengenai aspek-aspek dasar yang melandasi kinerja hewan-hewan sebagai individu, populasi, komunitas dan ekosistem yang ditempatinya, meliputi pengenalan pola proses interaksi serta faktor-faktor penting yang menyebabkan keberhasilan maupun ketidakberhasilan organisme-organisme dan ekosistem-ekosistem itu dalam mempertahankan keberadaannya. Berbagai faktor dan proses ini merupakan informasi yang dapat dijadikan dasar dalam menyusun permodelan, peramalan dan penerapannya bagi kepentingan manusia, seperti; habitat, distribusi dan kelimpahannya, makanannya, perilaku (behavior) dan lain-lain.
Setelah mempelajari dan memahami hal-hal tersebut, maka pengetahuan ini dapat kita manfaatkan untuk misalnya, memprediksi kelimpahannya dan menganalisis keadaannya serta peranannya dalam ekosistem, menjaga kelestariannya serta kegiatan lainnya yang menyangkut keberadaan hewan tersebut. Sebagai contoh, kita mempelajari salah satu jenis hewan mulai dari habitatnya di alam, distribusi dan kelimpahannya, makanannya, prilakunya, dan lain-lain. Setelah semua dipahami dengan pengamatan dan penelitian yang cermat dan teliti, maka pengetahuan itu dapat kita manfaatkan misalnya dalam menjaga kelestariannya di alam dengan menjaga keutuhan lingkungan, habitat alaminya,memprediksi kelimpahan populasinya kelak, menganalisis perannya dalam ekosistem, membudidayakannya serta kegiatan lainnya dengan mengoptimalkan kondisi lingkungannya menyerupai habitat aslinya.
Adapun ruang lingkup ekologi hewan dapat dibagi dalam 2 bagian, yaitu; Synekologidan Autekologi. Synekologi adalah materi bahasan dalam kajian atau penelitiannya ialah komunitas dengan berbagai interaksi antar populasi yang terjadi dalam komunitas tersebut. Contohnya; mempelajari atau meneliti tentang distribusi dan kelimpahan jenis ikan tertentu di daerah pasang surut. Autekologi adalah kajian atau penelitian tentang species, yaitu mengenai aspek-aspek ekologi dari individu-individu atau populasi suatu species hewan. Contohnya adalah meneliti atau mempelajari tentang seluk beluk kehidupan lalat buah (Drosophila sp.), mulai dari habitat, makanan, fekunditas, reproduksi, perilaku, respond an lain-lain.
Menurut Ibkar-Kramadibrata (1992) dan Sucipta (1993), secara garis besar pokok bahasan dalam ekologi hewan mencakup hal berikut ini;
a. Masalah distribusi dan kelimpahan populasi hewan secara local dan regional, mulai tingkat relung ekologi, microhabitat dan habitat, komunitas sampai biogeografi atau penyebaran hewan di muka bumi.
b. Masalah pengaturan fisiologis, respon serta adaptasi structural maupun perilaku terhadap perubahan lingkungan.
c. Perilaku dan aktivitas hewan dalam habitatnya.
d. Perubahan-perubahan secara berkala (harian, musiman, tahunan dsb) dari kehadiran, aktivitas dan kelimpahan populasi hewan.
e. Dinamika pop[ulasi dan komunitas serta pola interaksi-interaksi hewan dalam populasi dan komunitas.
f. Pemisahan-pemisahan relung ekologi, species dan ekologi evolusioner.
g. Masalah produktivitas sekunder dan ekoenergetika.
h. Ekologi sistem dan permodelan.
Dengan demikian ruang lingkup Ekologi Hewan meliputi obyek kajian individu/organisme, populasi, komunitas sampai ekosistem tentang distribusi dan kelimpahan, adaptasi dan perilaku, habitat dan relung, produktivitas sekunder, sistem dan permodelan ekologi.
3. Peranan Ekologi Bagi Manusia
Manusia adalah organisme heterotrof di bumi. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin maju menyebabkan manusia mengeksplorasi, mengolah dan memanfaatkan segala sesuatu yang ada di lingkungannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga dengan mudah mengubah kondisi lingkungannya sesuai keinginannya. Dengan keberhasilannya ini dengan mudah menyebabkan laju peningkatan populasi manusia yang relative tinggi (2%) pertahun.
Makin meningkatnya pemanfaatan sumberdaya yang diperlukan manusia telah menyebabkan makin menciutnya luas lingkungan alami dan makin bertambahnya lingkungan buatan. Akibat kegiatan manusia tersebut adalah pencemaran lingkungan oleh limbah buangan industri, kelangkan dan kepunahan species berbagaim organisme, terjadinya perubahan pola cuaca maupun iklim, semakin lebarnya lubang ozon, timbulnya berbagai jenis penyakit yang berbahaya dan lain-lain. Manusia kini dihadapkan pada 2 tantangan, yaitu; 1) menjaga kelestarian ketersediaan sumberdaya, 2) memelihara kondisi lingkungannya.
Menghadapi kedua tantangan tersebut, ekologi sangat berperan, misalnya penelitian-penelitian yang menghasilkan pemahaman mengenai berbagai aspek ekologi dari suatu populasi, komunitas ataupun ekosistem sehingga faktor-faktor penting dapat diketahui dengan tepat serta menghasilkan peramalan yang lebih akkurat. Hal ini dapat mendukung upaya-upaya yang akan dilakukan manusia, karena adanya acuan yang lebih baik untuk mencegah terjadinya perubahan-perubahan maupun kerusakan yang dapat merugikan kondisi lingkungan serta menjaga kesinambungan ketersediaan sumberdaya agar lestari dan pemanfaatannya dapat berkelanjutan.
Ekologi hewan bagi manusia cukup penting artinya dalam memberi nilai-nilai terapan dalam kehidupan manusia. Manfaat tersebut terutama menyangkut masalah-masalah pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, kesehatan, serta pengolahan dan konservasi satwa liar. Kisaran toleransi dan faktor-faktor pembatas telah banyak diterapkan dalam bidang-bidang tersebut. Konsep-konsep tersebut juga telah melandasi penanganan berbagai masalah seperti pengendalian hama dan penyakit, penggunaan berbagai species hewan tertentu sebagai indicator menunjukkan terjadinya perubahan kondisi lingkungan, hubungan predator mangsa dan parasitoid – inang, vector penyebar penyakit, pengelolaan dan upaya-upaya konservasi satwa liar yang bersifat insitu (pemeliharaan di habitat aslinya) maupun exsitu ( pemeliharaan di lingkungan buatan yang menyerupai habitat aslinya) dan lain-lain. Banyak masalah-masalah yang terpecahkan dengan mempelajari ekologi hewan yang senantiasa berlandaskan pada konsep efisiensi ekologi.
4. Permodelan dan Pendekatan dalam Ekologi
Permodelan ekologi disusun dalam menghadapi berbagai kondisi alam atau lingkungan yang terus menerus berubah atau dinamis. Dalam hal ini manusia dituntut dapat membuat penjelasan terhadap fenomena-fenomena alam untuk memperoleh manfaat bagi kepentingan hidupnya maupun meramalkan kejadian yang mungkin akan terjadi guna menghindari efek buruknya bagi manusia.Untuk dapat memenuhi tuntutan tersebut diperlukan acuan dan peramalan yang lebih baik dan tepat. Hasil studi tersebut dibuat dalam bentuk permodelan ekologi. Penyusunannya didukung oleh hasil-hasil penelitian ekologi yang memberikan informasi kuantitatif dan pengelolaan datanya banyak dibantu oleh teknik-teknik computer.
Model Ekologi pada dasarnya adalah suatu formulasi matematik sebagai bentuk penerjemahan fenomena ekologi yang sebenarnya dan telah disederhanakan. Jumlah variable dalam suatu model lebih rendah dari yang sebenarnya, karena yang ditampilkan hanya faktor-faktor dan proses kuncinya saja, yaitu yang paling penting serta paling menentukan. Informasi ini didapatkan dari hasil sejumlah penelitian kuantitatif yang bersifat deskriptif maupunh eksperimental di lapangan maupun di laboratorium.
Permodelan ekologi pada dasarnya adalah suatu formulasi matematik sebagai bentuk penerjemahan fenomena ekologp yang sebenarnya dan telah disempurnakan.
Pendekatan dalam ekologi dapat secara laboratories, lapangan dan matematik. Dalam ekologi hewan salah satu kendala yang sulit adalah pengukuran, metode dan teknik pengamatan. Hal ini disebabkan oleh sifat hewan yang senantiasa bergerak dan berpindah-pindah baik secara liar maupun jinak. Misalnya menyangkut penentuan kelimpahan dan perilaku hewan yang diteliti, ukuran tubuh mulai dari milimikron sampai yang besar dan tinggi, stadia perkembangan, kecepatan dan daya gerak yang berbeda-beda, lingkungan yang ditempati juga berbeda-beda seperti; habitat daratan, perairan tawar ataupun laut serta keunikan dan kespecifikan perilaku hidupnya termasuk aktivitasnya dalam sehari.
Metode dan teknik penelitian bukan saja ditentukan oleh hal-hal tersebut di atas, tetapi hal lain yang sangat penting adalah tujuan, sasaran dan manfaat dari penelitian itu. Penelitian ekologi hewan yang bersifat deskriptif ataupun eksperimental dengan data kuantitatif memerlukan desain (rancangan), prosedur kerja serta pengolahan data secara statistic.
Penelitian eksperimen, pada dasarnya melibatkan 2 komponen atau perangkat obyek yang diteliti, yakni; perangkat eksperimen (perlakuan) dan control. Perangkat control merupakan suatu perangkat obyek yang diamati dan kondisinya serupa benar dengan perangkat eksperimen, kecuali ada hal-hal tertentu merupakan faktor atau proses yang diteliti atau yang diberikan sebagai perlakuan.
Pada umumnya penelitian eksperimen dilakukan di dalam laboratorium yang kondisinya sangat berbeda dengan kondisi di lingkungan alami atau kondisi habitat alami yang ditempati hewan yang diteliti. Kondisi lingkungan dalam suatu penelitian laboratorium merupakan kondisi yang dapat dikendalikan oleh peneliti, misalnya dibuat sangat berbeda dalam satu atau lebih faktor lingkungan dibandingkan dengan kondisi lingkungan alami atau dibuat sedemikian rupa yang sangat mirip dengan kondisi lingkungan alami.
6. Aplikasi Konsep Ekologi Hewan
Dalam perkembangannya ekologi telah mengalami diversivikasi dengan lahirnya cabang-cabang ilmu ekologi lainnya yang lebih spesifik, dengan materi yang terbatas, khusus dan mendalam yang didasarkan atas kelompok organisme, misalnya; Ekologi Tumbuhan, Ekologi hewan, Ekologi Parasit, Ekologi Gulma, Ekologi Serangga, ekologi Burung dan lainnya.
Ekologi Hewan, bahasannya memerlukan pemahaman mengenai aspek-aspek biologi lainnya juga menyangkut matematika dan statistika. Sebenarnya konsep, asas ataupun generalisasi dalam ekologi hewan telah banyak memberikan nilai-nilai terapan yang cukup dalam kehidupan manusia sehari-hari, terutama dalam bidang-bidang pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, kesehata dan pengolahan maupun konservasi satwa liar. Penerapan ekologi makin penting dengan semakin diperlukannya upaya-upaya manusia dalam memelihara ketersediaan sumberdaya serta kualitas lingkungan hidup yang berkesinambungan.
Dalam bidang pertanian, perkebunan dan peternakan, konsep kisaran toleransi dan faktor pembatas serta dalam masalah pengendalian populasi hama dan penyakit (Biological Control). Dengan konsep ekologi hewan juga telah melandasi penggunaan berbagai species hewan tertentu sebagai species indicator yang menunjukkan terjadinya perubahan kondisi lingkungan, sudah tercemar atau belum. Konsep lain dalam bidang pertanian dan kesehatan adalah hubungan predator mangsa dan parasitoid inang. Dalam upaya meningkatkan hasil produk ikan maupun ternak, pengelolaan satwa liar baik yang bersifat insitu (pemeliharaan di habitat aslinya) maupun exsitu (pemeliharaan di lingkungan buatan) seluruhnya berazaskan dan berlandaskan efisiensi ekologi dan azas-azas ekologi.

Tuesday, March 22, 2011

DAFTAR NAMA LATIN HEWAN

Nama Ilmiah Hewan. Bagi orang awam nama latin atau nama ilmiah hewan mungkin sangat asing karena kurangnya pengetahuan akan nama-nama ilmiah hewan yang dimaksud tersebut. Namun bagi orang yang biologi atau zoologi pasti tahu dan mengenalnya.

Berikut kami sajikan adalah daftar nama-nama ilmiah hewan yang berhasil kami himpun, untuk sekedar berbagi informasi dan sebagai penambah pengetahuan bagi yang belum tahu akan nama ilmiah hewan. Semoga bisa bermanfaat.

I. MAMALIA (Menyusui)
  1. Anoa depressicornis Anoa dataran rendah, Kerbau pendek
  2. Anoa quarlesi Anoa pegunungan
  3. Arctictis binturong Binturung
  4. Arctonyx collaris Pulusan
  5. Babyrousa babyrussa Babirusa
  6. Balaenoptera musculus Paus biru
  7. Balaenoptera physalus Paus bersirip
  8. Bos sondaicus Banteng
  9. Capricornis sumatrensis Kambing Sumatera
  10. Cervus kuhli; Axis kuhli Rusa Bawean
  11. Cervus spp. Menjangan, Rusa sambar (semua jenis dari genus Cervus)
  12. Cetacea Paus (semua jenis dari famili Cetacea)
  13. Cuon alpinus Ajag
  14. Cynocephalus variegatus Kubung, Tando, Walangkekes
  15. Cynogale bennetti Musang air
  16. Cynopithecus niger Monyet hitam Sulawesi
  17. Dendrolagus spp. Kanguru pohon (semua jenis dari genus Dendrolagus)
  18. Dicerorhinus sumatrensis Badak Sumatera
  19. Dolphinidae Lumba-lumba air laut (semua jenis dari famili Dolphinidae)
  20. Dugong dugon Duyung
  21. Elephas indicus Gajah
  22. Felis badia Kucing merah
  23. Felis bengalensis Kucing hutan, Meong congkok
  24. Felis marmorota Kuwuk
  25. Felis planiceps Kucing dampak
  26. Felis temmincki Kucing emas
  27. Felis viverrinus Kucing bakau
  28. Helarctos malayanus Beruang madu
  29. Hylobatidae Owa, Kera tak berbuntut (semua jenis dari famili Hylobatidae)
  30. Hystrix brachyura Landak
  31. Iomys horsfieldi Bajing terbang ekor merah
  32. Lariscus hosei Bajing tanah bergaris
  33. Lariscus insignis Bajing tanah, Tupai tanah
  34. Lutra lutra Lutra
  35. Lutra sumatrana Lutra Sumatera
  36. Macaca brunnescens Monyet Sulawesi
  37. Macaca maura Monyet Sulawesi
  38. Macaca pagensis Bokoi, Beruk Mentawai
  39. Macaca tonkeana Monyet jambul
  40. Macrogalidea musschenbroeki Musang Sulawesi
  41. Manis javanica Trenggiling, Peusing
  42. Megaptera novaeangliae Paus bongkok
  43. Muntiacus muntjak Kidang, Muncak
  44. Mydaus javanensis Sigung
  45. Nasalis larvatus Kahau, Bekantan
  46. Neofelis nebulusa Harimau dahan
  47. Nesolagus netscheri Kelinci Sumatera
  48. Nycticebus coucang Malu-malu
  49. Orcaella brevirostris Lumba-lumba air tawar, Pesut
  50. Panthera pardus Macan kumbang, Macan tutul
  51. Panthera tigris sondaica Harimau Jawa
  52. Panthera tigris sumatrae Harimau Sumatera
  53. Petaurista elegans Cukbo, Bajing terbang
  54. Phalanger spp. Kuskus (semua jenis dari genus Phalanger)
  55. Pongo pygmaeus Orang utan, Mawas
  56. Presbitys frontata Lutung dahi putih
  57. Presbitys rubicunda Lutung merah, Kelasi
  58. Presbitys aygula Surili
  59. Presbitys potenziani Joja, Lutung Mentawai
  60. Presbitys thomasi Rungka
  61. Prionodon linsang Musang congkok
  62. Prochidna bruijni Landak Irian, Landak semut
  63. Ratufa bicolor Jelarang
  64. Rhinoceros sondaicus Badak Jawa
  65. Simias concolor Simpei Mentawai
  66. Tapirus indicus Tapir, Cipan, Tenuk
  67. Tarsius spp. Binatang hantu, Singapuar (semua jenis dari genus Tarsius)
  68. Thylogale spp. Kanguru tanah (semua jenis dari genus Thylogale)
  69. Tragulus spp. Kancil, Pelanduk, Napu (semua jenis dari genus Tragulus)
  70. Ziphiidae Lumba-lumba air laut (semua jenis dari famili Ziphiidae)
II. AVES (Burung)
  1. Accipitridae Burung alap-alap, Elang (semua jenis dari famili Accipitridae)
  2. Aethopyga exima Jantingan gunung
  3. Aethopyga duyvenbodei Burung madu Sangihe
  4. Alcedinidae Burung udang, Raja udang (semua jenis dari famili Alcedinidae)
  5. Alcippe pyrrhoptera Brencet wergan
  6. Anhinga melanogaster Pecuk ular
  7. Aramidopsis plateni Mandar Sulawesi
  8. Argusianus argus Kuau
  9. Bubulcus ibis Kuntul, Bangau putih
  10. Bucerotidae Julang, Enggang, Rangkong, Kangkareng (semua jenis dari famili Bucerotidae)
  11. Cacatua galerita Kakatua putih besar jambul kuning
  12. Cacatua goffini Kakatua gofin
  13. Cacatua moluccensis Kakatua Seram
  14. Cacatua sulphurea Kakatua kecil jambul kuning
  15. Cairina scutulata Itik liar
  16. Caloenas nicobarica Junai, Burung mas, Minata
  17. Casuarius bennetti Kasuari kecil
  18. Casuarius casuarius Kasuari
  19. 89 Casuarius unappenddiculatus Kasuari gelambir satu, Kasuari leher kuning
  20. Ciconia episcopus Bangau hitam, Sandanglawe
  21. Colluricincla megarhyncha Burung sohabe coklat
  22. Crocias albonotatus Burung matahari
  23. Ducula whartoni Pergam raja
  24. Egretta sacra Kuntul karang
  25. Egretta spp. Kuntul, Bangau putih (semua jenis dari genus Egretta)
  26. Elanus caerulleus Alap-alap putih, Alap-alap tikus
  27. Elanus hypoleucus Alap-alap putih, Alap-alap tikus
  28. Eos histrio Nuri Sangir
  29. Esacus magnirostris Wili-wili, Uar, Bebek laut
  30. Eutrichomyias rowleyi Seriwang Sangihe
  31. Falconidae Burung alap-alap, Elang (semua jenis dari famili Falconidae)
  32. Fregeta andrewsi Burung gunting, Bintayung
  33. Garrulax rufifrons Burung kuda
  34. Goura spp. Burung dara mahkota, Burung titi, Mambruk (semua jenis dari genus Goura)
  35. Gracula religiosa mertensi Beo Flores
  36. Gracula religiosa robusta Beo Nias
  37. Gracula religiosa venerata Beo Sumbawa
  38. Grus spp. Jenjang (semua jenis dari genus Grus)
  39. Himantopus himantopus Trulek lidi, Lilimo
  40. Ibis cinereus Bluwok, Walangkadak
  41. Ibis leucocephala Bluwok berwarna
  42. Lorius roratus Bayan
  43. Leptoptilos javanicus Marabu, Bangau tongtong
  44. Leucopsar rothschildi Jalak Bali
  45. Limnodromus semipalmatus Blekek Asia
  46. Lophozosterops javanica Burung kacamata leher abu-abu
  47. Lophura bulweri Beleang ekor putih
  48. Loriculus catamene Serindit Sangihe
  49. Loriculus exilis Serindit Sulawesi
  50. Lorius domicellus Nori merah kepala hitam
  51. Macrocephalon maleo Burung maleo
  52. Megalaima armillaris Cangcarang
  53. Megalaima corvina Haruku, Ketuk-ketuk
  54. Megalaima javensis Tulung tumpuk, Bultok Jawa
  55. Megapoddidae Maleo, Burung gosong (semua jenis dari famili Megapododae)
  56. Megapodius reintwardtii Burung gosong
  57. Meliphagidae Burung sesap, Pengisap madu (semua jenis dari famili Meliphagidae)
  58. Musciscapa ruecki Burung kipas biru
  59. Mycteria cinerea Bangau putih susu, Bluwok
  60. Nectariniidae Burung madu, Jantingan, Klaces (semua jenis dari famili Nectariniidae)
  61. Numenius spp. Gagajahan (semua jenis dari genus Numenius)
  62. Nycticorax caledonicus Kowak merah
  63. Otus migicus beccarii Burung hantu Biak
  64. Pandionidae Burung alap-alap, Elang (semua jenis dari famili Pandionidae)
  65. Paradiseidae Burung cendrawasih (semua jenis dari famili Paradiseidae)
  66. Pavo muticus Burung merak
  67. Pelecanidae Gangsa laut (semua jenis dari famili Pelecanidae)
  68. Pittidae Burung paok, Burung cacing (semua jenis dari famili Pittidae)
  69. Plegadis falcinellus Ibis hitam, Roko-roko
  70. Polyplectron malacense Merak kerdil
  71. Probosciger aterrimus Kakatua raja, Kakatua hitam
  72. Psaltria exilis Glatik kecil, Glatik gunung
  73. Pseudibis davisoni Ibis hitam punggung putih
  74. Psittrichas fulgidus Kasturi raja, Betet besar
  75. Ptilonorhynchidae Burung namdur, Burung dewata
  76. Rhipidura euryura Burung kipas perut putih, Kipas gunung
  77. Rhipidura javanica Burung kipas
  78. Rhipidura phoenicura Burung kipas ekor merah
  79. Satchyris grammiceps Burung tepus dada putih
  80. Satchyris melanothorax Burung tepus pipi perak
  81. Sterna zimmermanni Dara laut berjambul
  82. Sternidae Burung dara laut (semua jenis dari famili Sternidae)
  83. Sturnus melanopterus Jalak putih, Kaleng putih
  84. Sula abbotti Gangsa batu aboti
  85. Sula dactylatra Gangsa batu muka biru
  86. Sula leucogaster Gangsa batu
  87. Sula sula Gangsa batu kaki merah
  88. Tanygnathus sumatranus Nuri Sulawesi
  89. Threskiornis aethiopicus Ibis putih, Platuk besi
  90. Trichoglossus ornatus Kasturi Sulawesi
  91. Tringa guttifer Trinil tutul
  92. Trogonidae Kasumba, Suruku, Burung luntur
  93. Vanellus macropterus Trulek ekor putih
III. REPTILIA (Melata)
  1. Batagur baska Tuntong
  2. Caretta caretta Penyu tempayan
  3. Carettochelys insculpta Kura-kura Irian
  4. Chelodina novaeguineae Kura Irian leher panjang
  5. Chelonia mydas Penyu hijau
  6. Chitra indica Labi-labi besar
  7. Chlamydosaurus kingii Soa payung
  8. Chondropython viridis Sanca hijau
  9. Crocodylus novaeguineae Buaya air tawar Irian
  10. Crocodylus porosus Buaya muara
  11. Crocodylus siamensis Buaya siam
  12. Dermochelys coriacea Penyu belimbing
  13. Elseya novaeguineae Kura Irian leher pendek
  14. Eretmochelys imbricata Penyu sisik
  15. Gonychephalus dilophus Bunglon sisir
  16. Hydrasaurus amboinensis Soa-soa, Biawak Ambon, Biawak pohon
  17. Lepidochelys olivacea Penyu ridel
  18. Natator depressa Penyu pipih
  19. Orlitia borneensis Kura-kura gading
  20. Python molurus Sanca bodo
  21. Phyton timorensis Sanca Timor
  22. Tiliqua gigas Kadal Panan
  23. Tomistoma schlegelii Senyulong, Buaya sapit
  24. Varanus borneensis Biawak Kalimantan
  25. Varanus gouldi Biawak coklat
  26. Varanus indicus Biawak Maluku
  27. Varanus komodoensis Biawak komodo, Ora
  28. Varanus nebulosus Biawak abu-abu
  29. Varanus prasinus Biawak hijau
  30. Varanus timorensis Biawak Timor
  31. Varanus togianus Biawak Togian
IV. INSECTA (Serangga)
  1. Cethosia myrina Kupu bidadari
  2. Ornithoptera chimaera Kupu sayap burung peri
  3. Ornithoptera goliath Kupu sayap burung goliat
  4. Ornithoptera paradisea Kupu sayap burung surga
  5. Ornithoptera priamus Kupu sayap priamus
  6. Ornithoptera rotschldi Kupu burung rotsil
  7. Ornithoptera tithonus Kupu burung titon
  8. Trogonotera brookiana Kupu trogon
  9. Troides amphrysus Kupu raja
  10. Troides andromanche Kupu raja
  11. Troides criton Kupu raja
  12. Troides haliphron Kupu raja
  13. Troides helena Kupu raja
  14. Troides hypolitus Kupu raja
  15. Troides meoris Kupu raja
  16. Troides miranda Kupu raja
  17. Troides plato Kupu raja
  18. Troides rhadamantus Kupu raja
  19. Troides riedeli Kupu raja
  20. Troides vandepolli Kupu raja
V. PISCES (Ikan)
  1. Homaloptera gymnogaster Selusur Maninjau
  2. Latimeria chalumnae Ikan raja laut
  3. Notopterus spp. Belida Jawa, Lopis Jawa (semua jenis dari genus Notopterus)
  4. Pritis spp. Pari Sentani, Hiu Sentani (semua jenis dari genus Pritis)
  5. Puntius microps Wader goa
  6. Scleropages formasus Peyang malaya, Tangkelasa
  7. Scleropages jardini Arowana Irian, Peyang Irian, Kaloso